
Mobil jemputan sekolah belum lagi berhenti, Beningnya langsung meloncat menghambur. ”Hati-hati!” teriak sopir. Tapi gadis kecil itu malah mempercepat larinya. Seperti capung ia melintas halaman. Ia ingin segera membuka kotak pos itu. Pasti kartu pos dari Mama telah tiba. Di kelas, tadi, ia sudah sibuk membayang-bayangkan: bergambar apakah kartu pos Mama kali ini? Hingga Bu Guru menegurnya karena terus-terusan melamun.
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, ”Biiikkk…, Bibiiikkk….” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.
”Ada apa, Non?”
”Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”
Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.
Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. ”Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. ”Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap enam tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, ”Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”
”Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater kemari…”
Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.
Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan kadang meledek istrinya, ”Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru play group, Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
”Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…”
Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. ”Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana Ren bercerita, dengan suara penuh kenangan, ”Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk di pangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. ”Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. ”Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”
Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian!
Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
”Enggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”
Marwan menggandeng anaknya masuk.
”Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
”Nganter ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
”Ke mana?”
”Ke rumah Pak Pos…”
Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.
”Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”
Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding goa. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.
Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
”Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,
”Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”
”Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”
Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita….
”Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Seolah-olah itu dari Ren....”
Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.
Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.
Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.
”Wah, udah datang ya kartu posnya?”
Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.
”Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. ”Ini bukan tulisan Mama…”
Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Dua belas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.
”Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.
”Beningnya…”
Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
”Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
”Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.
”Buka Beningnya! Cepat buka!”
Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang berserakan.
”Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. ”Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri….”
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.
Agus Noor, Singapura-Yogyakarta, 2008
---
Beningnya tertegun, mendapati kotak itu kosong. Ia melongok, barangkali kartu pos itu terselip di dalamnya. Tapi memang tak ada. Apa Mama begitu sibuk hingga lupa mengirim kartu pos? Mungkin Bi Sari sudah mengambilnya! Beningnya pun segera berlari berteriak, ”Biiikkk…, Bibiiikkk….” Ia nyaris kepleset dan menabrak pintu. Bik Sari yang sedang mengepel sampai kaget melihat Beningnya terengah-engah begitu.
”Ada apa, Non?”
”Kartu posnya udah diambil Bibik, ya?”
Tongkat pel yang dipegangnya nyaris terlepas, dan Bik Sari merasa mulutnya langsung kaku. Ia harus menjawab apa? Bik Sari bisa melihat mata kecil yang bening itu seketika meredup, seakan sudah menebak, karna ia terus diam saja. Sungguh, ia selalu tak tahan melihat mata yang kecewa itu.
Marwan hanya diam ketika Bik Sari cerita kejadian siang tadi. ”Sekarang, setiap pulang, Beningnya selalu nanya kartu pos…” suara pembantunya terdengar serba salah. ”Saya ndak tahu mesti jawab apa…” Memang, tak gampang menjelaskan semuanya pada anak itu. Ia masih belum genap enam tahun. Marwan sendiri selalu berusaha menghindari jawaban langsung bila anaknya bertanya, ”Kok kartu pos Mama belum datang ya, Pa?”
”Mungkin Pak Posnya lagi sakit. Jadi belum sempet ngater kemari…”
Lalu ia mengelus lembut anaknya. Ia tak menyangka, betapa soal kartu pos ini akan membuatnya mesti mengarang-ngarang jawaban.
Pekerjaan Ren membuatnya sering bepergian. Kadang bisa sebulan tak pulang. Dari kota-kota yang disinggahi, ia selalu mengirimkan kartu pos buat Beningnya. Marwan kadang meledek istrinya, ”Hari gini masih pake kartu pos?” Karna Ren sebenarnya bisa telepon atau kirim SMS. Meski baru play group, Beningnya sudah pegang hape. Sekolahnya memang mengharuskan setiap murid punya hand phone agar bisa dicek sewaktu-waktu, terutama saat bubaran sekolah, untuk berjaga-jaga kalau ada penculikan.
”Kau memang tak pernah merasakan bagaimana bahagianya dapat kartu pos…”
Marwan tak lagi menggoda bila Ren sudah menjawab seperti itu. Sepanjang hidupnya, Marwan tak pernah menerima kartu pos. Bahkan, rasanya, ia pun jarang dapat surat pos yang membuatnya bahagia. Saat SMP, banyak temannya yang punya sahabat pena, yang dikenal lewat rubrik majalah. Mereka akan berteriak senang bila menerima surat balasan atau kartu pos, dan memamerkannya dengan membacanya keras-keras. Karena iri, Marwan pernah diam-diam menulis surat untuk dirinya sendiri, lantas mengeposkannya. Ia pun berusaha tampak gembira ketika surat yang dikirimkannya sendiri itu ia terima.
Ren sejak kanak sering menerima kiriman kartu pos dari Ayahnya yang pelaut. ”Setiap kali menerima kartu pos darinya, aku selalu merasa Ayahku muncul dari negeri-negeri yang jauh. Negeri yang gambarnya ada dalam kartu pos itu…” ujar Ren. Marwan ingat, bagaimana Ren bercerita, dengan suara penuh kenangan, ”Aku selalu mengeluarkan semua kartu pos itu, setiap Ayah pulang.” Ren kecil duduk di pangkuan, sementara Ayahnya berkisah keindahan kota-kota pada kartu pos yang mereka pandangi. ”Itulah saat-saat menyenangkan dan membanggakan punya Ayah pelaut.” Ren merawat kartu pos itu seperti merawat kenangan. ”Mungkin aku memang jadul. Aku hanya ingin Beningnya punya kebahagiaan yang aku rasakan…”
Tak ingin berbantahan, Marwan diam. Meski tetap saja ia merasa aneh, dan yang lucu: pernah suatu kali Ren sudah pulang, tetapi kartu pos yang dikirimkannya dari kota yang disinggahi baru sampai tiga hari kemudian!
Ketukan di pintu membuat Marwan bangkit dan ia mendapati Beningnya berdiri sayu menenteng kotak kayu. Itu kotak kayu pemberian Ren. Kotak kayu yang dulu juga dipakai Ren menyimpan kartu pos dari Ayahnya. Marwan melirik jam dinding kamarnya. Pukul 11.20.
”Enggak bisa tidur, ya? Mo tidur di kamar Papa?”
Marwan menggandeng anaknya masuk.
”Besok Papa bisa anter Beningnya enggak?” tiba-tiba anaknya bertanya.
”Nganter ke mana? Pizza Hut?”
Beningnya menggeleng.
”Ke mana?”
”Ke rumah Pak Pos…”
Marwan merasakan sesuatu mendesir di dadanya.
”Kalu emang Pak Posnya sakit biar besok Beningnya aja yang ke rumahnya, ngambil kartu pos dari Mama.”
Marwan hanya diam, bahkan ketika anaknya mulai mengeluarkan setumpuk kartu pos dari kotak itu. Ia mencoba menarik perhatian Beningnya dengan memutar DVD Pokoyo, kartun kesukaannya. Tapi Beningnya terus sibuk memandangi gambar-gambar kartu pos itu. Sudut kota tua. Siluet menara dengan burung-burung melintas langit jernih. Sepeda yang berjajar di tepian kanal. Pagoda kuning keemasan. Deretan kafe payung warna sepia. Dermaga dengan deretan yacht tertambat. Air mancur dan patung bocah bersayap. Gambar pada dinding goa. Bukit karang yang menjulang. Semua itu menjadi tampak lebih indah dalam kartu pos. Rasanya, ia kini mulai dapat memahami, kenapa seorang pengarang bisa begitu terobsesi pada senja dan ingin memotongnya menjadi kartu pos buat pacarnya.
Andai ada Ren, pasti akan dikisahkannya gambar-gambar di kartu pos itu hingga Beningnya tertidur. Ah, bagaimanakah ia mesti menjelaskan semuanya pada bocah itu?
”Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama. Marwan masih ngantuk karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas,
”Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”
”Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”
Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita….
”Atau kamu bisa saja tulis kartu pos buat dia. Seolah-olah itu dari Ren....”
Marwan tersenyum. Merasa lucu karena ingat kisah masa lalunya.
Mobil jemputan belum lagi berhenti ketika Marwan melihat Beningnya meloncat turun. Marwan mendengar teriakan sopir yang menyuruh hati-hati, tetapi bocah itu telah melesat menuju kotak pos di pagar rumah. Marwan tersenyum. Ia sengaja tak masuk kantor untuk melihat Beningnya gembira ketika mendapati kartu pos itu. Kartu pos yang diam-diam ia kirim. Dari jendela ia bisa melihat anaknya memandangi kartu pos itu, seperti tercekat, kemudian berlarian tergesa masuk rumah.
Marwan menyambut gembira ketika Beningnya menyodorkan kartu pos itu.
”Wah, udah datang ya kartu posnya?”
Marwan melihat mata Beningnya berkaca-kaca.
”Ini bukan kartu pos dari Mama!” Jari mungilnya menunjuk kartu pos itu. ”Ini bukan tulisan Mama…”
Marwan tak berani menatap mata anaknya, ketika Beningnya terisak dan berlari ke kamarnya. Bahkan membohongi anaknya saja ia tak bisa! Barangkali memang harus berterus terang. Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah. Ia bisa membiarkan Beningnya melihat Mamanya terakhir kali. Membiarkannya ikut ke pemakaman. Mungkin ia akan terus-terusan menangis karena merasakan kehilangan. Tetapi rasanya jauh lebih mudah menenangkan Beningnya dari tangisnya ketimbang harus menjelaskan bahwa pesawat Ren jatuh ke laut dan mayatnya tak pernah ditemukan.
Ketukan gugup di pintu membuat Marwan bergegas bangun. Dua belas lewat, sekilas ia melihat jam kamarnya.
”Ada apa?” Marwan mendapati Bik Sari yang pucat.
”Beningnya…”
Bergegas Marwan mengikuti Bik Sari. Dan ia tercekat di depan kamar anaknya. Ada cahaya terang keluar dari celah pintu yang bukan cahaya lampu. Cahaya yang terang keperakan. Dan ia mendengar Beningnya yang cekikikan riang, seperti tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Hawa dingin bagai merembes dari dinding. Bau wangi yang ganjil mengambang. Dan cahaya itu makin menggenangi lantai. Rasanya ia hendak terserap amblas ke dalam kamar.
”Beningnya! Beningnya!” Marwan segera menggedor pintu kamar yang entah kenapa begitu sulit ia buka. Ia melihat ada asap lembut, serupa kabut, keluar dari lubang kunci. Bau sangit membuatnya tersedak. Lebih keras dari bau amoniak. Ia menduga terjadi kebakaran dan makin panik membayangkan api mulai melahap kasur.
”Beningnya! Beningnya!” Bik Sari ikut berteriak memanggil.
”Buka Beningnya! Cepat buka!”
Entahlah berapa lama ia menggedor, ketika akhirnya cahaya keperakan itu seketika lenyap dan pintu terbuka. Beningnya berdiri sambil memegangi selimut. Segera Marwan menyambar mendekapnya. Ia melongok ke dalam kamar, tak ada api, semua rapi. Hanya kartu pos-kartu pos yang berserakan.
”Tadi Mama datang,” pelan Beningnya bicara. ”Kata Mama tukang posnya emang sakit, jadi Mama mesti nganter kartu posnya sendiri….”
Beningnya mengulurkan tangan. Marwan mendapati sepotong kain serupa kartu pos dipegangi anaknya. Marwan menerima dan mengamati kain itu. Kain kafan yang tepiannya kecoklatan bagai bekas terbakar.
Agus Noor, Singapura-Yogyakarta, 2008
---
PROSES KREATIF PENULISAN ‘KARTU POS DARI SURGA’
Ini semacam catatan seputar proses penulisan cerpen ‘Kartu Pos dari Surga’. Saya menulisnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang pada saya seputar cerpen yang muncul di Kompas (21 September 2008), dan kemudian masuk terpilih sebagai 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2009 versi Pena Kencana.
Saya menulis cerpen itu tak lebih dari dua jam. Tapi prosesnya lebih dari satu setengah tahun. Baiklah, saya akan mengisahkannya.

Ketika mendengar berita jatuhnya pesawat Adam Air di perairan Majene, 1 Januri 2007, langsung meletik ide: saya ingin menulis cerita yang berangkat dari peristiwa ini. Jadi, boleh dibilang, inilah proses awal kemunculan cerpen itu. Bermacam ide cerita bermunculan, kira-kira tentang tragedi para penumpang yang kena kecelakaan pesawat. Tapi saya tak segera menuliskannya, karena saya merasa ada yang mesti dipertimbangkan, yakni, pertama, saya tidak ingin sekadar menceritakan ulang kisah pesawat yang jatuh itu. Saya ingin ada jarak terlebih dulu dari peristiwa itu, agar bisa menemukan kisah yang tidak serta merta penceritaan ulang sebuah kejadian yang dengan gampang dikenali sumber peristiwanya. Sebuah fiksi, tidak boleh tergantung dari peristiwa yang berada di luar fiksi itu sendiri.
Kedua, saya yakin, peristiwa jatuhnya Adam Air itu juga memicu imajinasi para penulis lain. Artinya, akan banyak cerita dengan “latar jatuhnya pesawat’, atau “tentang pesawat yang jatuh” yang ditulis oleh para penulis selain saya, dan karenanya, bila saya tidak bisa menemukan sebuah kisah yang ‘unik dan menarik’, maka cerita yang saya tulis bisa menjadi biasa, umum dan mungkin tak beda jauh dengan kisah-kisah (yang akan ditulis penulis lain) itu.
Dua alasan itu, membuat saya menahan diri, dan ide pun mengendap. Selama pengendapan inilah, saya mencoba menyusun semacam point of view penceritaan, dengan mempertimbangkan, kira-kira sisi apa yang menarik dan menyentuh dari kisah jatuhnya pesawat itu. Sudah pasti, kisah menyentuh itu pastilah kisah tentang para korbannya. Tetapi bagaimana mengolahnya? Kisah seorang yang punya firasat akan kematiannya, lalu jatuh bersama pesawat itu, tentu banyak dipikirkan juga oleh pengarang lain. Atau mungkin kisah romantis pertemuan terakhir sepasang kekasih, atau suami istri, yang saling menyinta tetapi kemudian salah satunya mati dalam kecelakaan pesawat itu, saya rasa juga tak terlalu istimewa. Atau mungkin kisah seseorang yang menunggu, yang berdebar penuh cinta, tapi kemudian terkejut di akhir kisah lantaran mendengar orang yang ditunggunya mati dalam pesawat yang jatuh itu – ide ini pun segera saya tepis.
Saya menemukan titik pijak lagi buat cerpen itu, ketika para penumpang Adam Air diberitakan tak ada yang ditemukan. Para penumpang itu bagai lenyap tertelan laut, bersama bangkai pesawat yang juga tak tertemukan. Kejadian ini makin mengempalkan ide tentang para korban itu: yakni tentang seseorang yang mati tenggelam di laut dan mayatnya tak ditemukan. Seperti tak ada jejak kematian yang bisa membuktikannya.
Bagi saya, ini penting, karena inilah yang membuat saya menemukan awal dari mana saya akan mengolah kisah. Tiadanya mayat yang ditemukan itu juga menjadi sesuatu yang penting, bila kita mengingat tradisi ziarah kubur. Bagaimana mungkin kita bisa melakukan ziarah kubur, kalau yang mati tak ada kuburnya? Maka saya pun makin tahu: ini mesti kisah seorang yang bingung atau berduka karena tak tahu bagaimana menjelaskan sebuah kematian…
Siapa yang menjelaskan, dan pada siapa?
Di sinilah pertanyaan soal tokoh mulai muncul. Kalau dalam teori penulisan, inilah saatnya mulai ditanyakan: Siapa dia? Kenapa dia? Saya mesti menemukan logika cerita: kira-kira, siapa yang menjelaskan peristiwa itu, dan pada siapa? Ia harus merasa kesulitan menjelaskan kematian itu, karena memang tak ada bukti, tak ada mayat, tak ada pemakaman. Dan siapa yang tidak gampang dijelaskan dengan semua kejadian itu?
Maka tokoh anak kecil mulai muncul. Nama tokoh belum terpikir, itu nanti, gampang – begitu kebiasaan saya yang selalu menentuan nama tokoh belakangan. Menjelaskan kematian pada anak kecil, sudah tentu tak mudah. Apalagi ketika tak ada mayat, tak ada prosesi pemakaman. Itulah yang kemudian mulai menempel pada benak saya, seperti kemudian muncul dalam cerpen itu:
Tapi bagaimanakah menjelaskan kematian pada anak seusianya? Rasanya akan lebih mudah bila jenazah Ren terbaring di rumah…
Begitulah, kisah pun tersusun: saya ingin menuliskan tentang seorang ayah, yang kesulitan menjelaskan kematian ibu pada anaknya yang masih kecil, karena sebagaimana ide dari jatuhnya Adam Air, yang mati itu memang lenyap di lautan. Mayatnya tak pernah pulang ke rumah.
Pertanyaan lain segera menyusul, yang berusaha mencari korelasi atau hubungan yang kuat antara si anak dengan ibunya. Karena, logika dalam hubungan itu mesti kuat: kenapa si anak merindukan ibunya (yang mendadak tak pulang ke rumah)? Mesti ada ikatan khusus, atau hubungan batin tertentu, yang membuat si anak benar-benar merasa kehilangan. Atau, kehadiran si ibu selalu menjadi sesuatu yang penting bagi si anak, hingga ketika ia tak ada, si anak merasa benar-benar kehilangan. Apakah si ibu suka mendongengi si anak? Ah, terlalu sering. Atau apa?
Di sini saya merasa gagal menemukan kunci jawaban untuk menyelesaikan hubungan itu. Dan kisah ini pun mengendap, lama dalam kepala saya. Sesekali menggoda, tetapi tetap tak bisa saya tuliskan, karena saya belum bisa menemukan logika yang memperkuat hubungan si ibu dan anak itu.
Saya mungkin melupakan ide itu kalau saya tak takut naik pesawat. Setiap kali naik pesawat, saya selalu mebayangkan jenazah saya akan lenyap begitu saja. Begitu pun ketika terbang menuju Singapura, ketakutan itu begitu kuat. Tapi bersamaaan dengan ketakutan itu, munculah sosok ibu dalam cerpen yang ingin saya tulis itu: ia adalah seseorang wanita yang selalu bepergian naik pesawat, jauh ke banyak negeri. Nah, di sini saya menemukan peluang: ada sesuatu yang khusus yang mewakili ibu itu, bila ia bepergian berhari-hari atau berbulan-bulan, sesuatu yang menandai kehadirannya buat si anak. Mungkin ia selalu membawakan oleh-oleh bila singgah di satu kota. Tapi ini biasa banget, ya? Apalagi kalau oleh-oleh itu semacam mainan atau boneka. Lalu apa?
Saat berjalan-jalan, saya melihat kedai yang menjual kartu pos. Bohlam terang segara menyala dalam kepala: ini dia, kartu pos! Setiap bepergian, setiap singgah di suatu tempat, si ibu itu selalu mengirim kartu pos buat anaknya! Kartu pos itu menjadi susuatu yang khusus, yang selalu dinanti oleh anaknya. Saya pun seperti menemukan jalan terang untuk segera menyelesaikan.
Ketika di hotel, saya pun segera menuliskannya. Tapi saya segera menghentikan. Saya merasa terganggu, justru oleh kartu pos itu. Kenapa kartu pos? Hari gini, kok masih pakai kartu pos? Latar pesawat jatuh, akan mengingatkan bahwa kisah ini adalah ‘hari ini’, bukan jaman dulu, jaman ketika kartu pos masih menjadi sesuatu yang istimewa. Sekarang kartu pos sudah antik, jadul, tergantikan SMS dari handphone. Maka kartu pos, justru akan menjadi cacat cerita bila saya paksakan. Saya harus lebih dulu menemukan rasionalisasi kisah seputar begitu penting dan berartinya kartu pos itu…
Maka, sebelum saya bisa menjawab pertanyaan itu, saya pun tak melanjutkan kisah itu. Ia tersimpan dalam file flashdisk saya. Tapi mungkin ide itu memang benar-benar ingin dituntaskan. Meski tenggelam dalam kesibukan, ide itu sesekali menggelitik, seperti minta perhatian. Dan ketika membuka catatan-catatan lama di buku notes saya (yang sudah lecek), saya menemukan iventarisasi judul-judul cerita yang pernah saya tulis dalam buku berwarna cokelat itu. Sekadar memberi tahu, saya memang suka mencatat judul-judul yang saya kira menarik. Judul itu saya tulis, saya simpen, meski saya belum tahu itu berkisah tentang apa. Nah, ketika membuka notes kumal itu, saya menemukan judul “Kartu Pos dari Surga”.
Membaca judul itu, saya kembali diingatkan untuk memikirkan kembali struktur cerpen itu. Setidaknya, kini judul sudah ketemu. Bayangan kisah sudah ada. Tokoh-tokoh sudah ada. Apalagi yang kurang?
Karena pada dasarnya saya ingin menulis kisah dengan “nada dasar realis”, maka koheresi antartokoh dan semua elemen harus utuh dan padu. Mesti ada hubungan yang ‘realistik’ dan ‘logis’, agar kisah menjadi meyakinkan. Maka saya memang harus segera menyelesaikan persoalan kartu pos itu: apa pentingnya bagi tokoh-tokoh itu? Lalu kenapa kartu pos? Karena kan lebih praktis menelpon anaknya bila bepergian?
Maka, ketika desakan untuk menuliskan kisah itu begitu kuat, saya segera chatting dengan seorang kawan yang suka dengan kartu pos. Saya tanya koleksi katu pos yang dia punya, dan segala macam. Dari situlah, saya mulai memberi nama tokoh ibu, Ren. Ia, tokoh dalam cerpen itu, memang punya pengalaman yang khusus dengan kartu pos: sewaktu kanak-kanak bapaknya yang pelaut mengiriminya kartu pos. Ini dia kunci untuk menjawab posisi simbolik kartu pos itu. Makanya, latar belakang tokoh sudah bisa menjelaskan kenapa ia, Ren, selalu mengirimkan kartu pos buat anaknya.
Ada satu peristiwa yang juga menolong saya, yakni berita soal penculikan anak, yang marak. Saya membaca berita: ada satu sekolah, yang karena takut anak didiknya diculik, mengharuskan anak-anak itu membawa handphone, agar bisa dihubungi sewaktu-waktu. Lalu saya pun membayangkan, si tokoh anak, yang kemudian saya beri nama Beningnya, memang punya handphone, tetapi itu lebih karena ketakutan akan peristiwa penculikan. Jadi, handphone itu bukan “media komunikasi utama” antara Beningnya dan ibunya, Ren. Karena yang mengikat secara batin antara Beningnya dan Ren adalah “kartu pos-kartu pos” yang dikirimkan itu. Itulah pentingnya kartu pos itu bagi Ren dan Beningnya.
Maka pada suatu malam di awal September 2008, saya pun mulai menulis cerpen “Kartu Pos dari Surga” dengan yakin. Saya mengetiknya lancar. Tetapi kemudian sangsi: judul itu sudah mengisyaratkan kematian. Kata ‘surga” sudah langsung membawa imajinasi pembaca bahwa semua ini adalah cerita tentang seseorang yang mati. Ini akan menjadi persoalan besar bila saya tak mampu mengatasi. Ending yang sudah ditebak pembaca, akan menjadi tak menarik.
Inilah persoalannya: saya harus menemukan ending yang bisa menghentak, agar pembaca yang sudah tahu atau bisa menebak, tetap terpesona.
Bila pembaca kira-kira sudah bisa menebak, maka kita harus melalukan siasat – itulah teorinya. Semacam tekhnis, agar pembaca berfikir atau menduga yang lain juga. Ini penting dalam alur, agar kita bisa menyiapkan kejutan. Tekhnis seperti itu segera saya pakai di bagian tengah cerita: dengan mengintrodusir kemungkinan perselingkuhan. Artinya, pembaca diberi kemungkinan lain, jangan-jangan Ren pergi meninggalkan Beningnya bukan karena mati, tetapi karena pergi dengan laki-laki lain, seperti yang saya isyaratkan dalam adegan ini:
“Bilang saja Mamanya pergi…” kata Ita, teman sekantor, saat Marwan makan siang bersama.
Marwan masih ngantuk, karena baru tidur menjelang jam lima pagi, setelah Beningnya pulas, “Bagaimana kalau ia malah terus bertanya, kapan pulangnya?”
“Ya sudah, kamu jelaskan saja pelan-pelan yang sebenarnya.”
Itulah. Ia selalu merasa bingung, dari mana mesti memulainya? Marwan menatap Ita, yang tampak memberi isyarat agar ia melihat ke sebelah. Beberapa rekan sekantornya terlihat tengah memandang mejanya dengan mata penuh gosip. Pasti mereka menduga ia dan Ita…
Seorang pembaca sempat komentar pada saya soal bagian itu, “Tadinya saya menyangka ini kisah perselingkuhan…” Jadi, secara tekhnis saya berhasil mengecoh. Sebab, bila tidak begitu, maka alur menjadi datar dan lurus. Dan alur semacam itu, sangat tidak menguntungkan bagi ending yang saya siapkan. Untuk sebuah kisah yang bisa diduga, ending memang menjadi sangat-sangat penting untuk diperhatikan.
Itulah sebabnya, saya kemudian ingin memberi sentuhan magis di bagian ending. Ide untuk menulis kisah yang ‘sungguh-sungguh realis’ pun saya singkirkan. Saya berfikir, bila ending diselesaikan dengan realis, ini akan menjadi kisah melodrama keluarga biasa. Maka saya kemudian menyiapkan satu strategi penulisan: sejak awal hingga menjelang akhir saya harus mampu menghadirkan kisah bergaya realis — dengan kata lain, saya harus berhasil meyakinkan lebih dulu konvensi kisah realis itu, agar pembaca terbuai dan hanyut dalam kisah, baru kemudian saya ‘hantam’ dengan eding yang bergaya magis. Relisme mensyaratkan semua elemen itu mendukung untuk sebuah kesatuan (unity) cerita dan suspen. Dan ending yang magis bisa menjadi ledakan yang membebaskan imajinasi dan spiritual pembaca, semacam pengalaman estetis ketika membaca cerpen itu.
Begitulah, saya menuliskannya tak lebih dari dua jam. Malam itu juga saya langsung email ke Kompas. Dua minggu kemudian, 21 September 2008, muncul menjumpai pembacanya. Menjumpai nasibnya sendiri sebagai sebuah karya. Setelah hampir dua tarun mendekam dalam kepala saya.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
mari Cerita...