Senin, 15 April 2013

Perempuan Hujan

 
doc. @ardamahira
:: Dimanapun kau meringkuk, dengan atau tanpa selimut hangat, harapku sudah reda bening itu, harapku yang kau bawa ke mimpi adalah senyum yang tersudut manis di pipimu yang salju, yang kerapkali bersemu merah jambu...

Ijinkan aku menyimpannya, lembar-lembar yang basah, yang kini kubiarkan tergeletak acak di meja yang selalu berserak. Tanpamu, tiadamu, beranda ini terlihat pucat-kusam, cat meja bundar semakin pudar warnanya.

Selalu, ada luka, tangis, rekah tawa dan sederhana di meja itu, di tiap gores-gores halusnya. Tiap kali menyentuhnya, kembali, terputar lagi, kenangan Antara Aku, Kau & Hujan...

Selamat tidur, Perempuan Hujan...

Sabtu, 13 April 2013

3 Hari Episode




Episode 1
Dekat bukan membuat kita tak berjarak. Setidaknya itu yang terjadi, di sini, Di padang ilalang  yang menjulang,  menelan tubuhmu, tubuhku, meringkuk memeluk lutut masing-masing. Dan diam, meski berdua, seolah kita seperti beberapa tahun lalu, terentang jarak; Terserak di dua kota yang berbeda.


Episode 2
Kita masih seperti dulu. Ya, selaiknya temu awal itu; waktu senja. Dan kini pun ku masih turut, larut tenggelam dalam jejak-jejak yang pernah kita cipta dengan latar senja, jingga keemasan yang akan selalu kembali, meski tiap hari tenggelam ke barat (lagi).

Episode 3
Hanyalah dirimu, terkanvas raksasa & indah di benak,  di sejenak bersamamu. Aku pun merasa, tak mungkin rencana sesempurna kehendak-Nya, dan Ia menggenggamku, memberi selembar takdir bertuliskan ikhlas, maka  melepasmu & tak kan pernah lagi cinta adalah cara terpahit menikmati senja, meski ada kopi, ada di beranda, di meja bundar kita. Dan mengusaikan harapan, menenggelamkan kenangan pada tulisan-tulisan yang entah sampai kapan henti bercerita tentang rasa, tentang kamu, tentang kita. Dan tiada lagi tunggu di depan pintu, waktu mengajakku bertualang, membawa ransel, mengikat tali sepatu kuat-kuat guna mengembarai semesta, menjadi musafir, menemukan makna-makna, menuliskannya-dan semoga melupakanmu adalah seutuhnya.

#rumahira

Perjalanan Hari #1

Dear Me,

doc. pribadi
      Ia berdiri di pagar pembatas halaman, di bawah rimbun bambu cina yang lebat. Lelaki itu baru pertama kali ke tempat ini, ia mencoba untuk tidak merasa asing. Kedatangannya untuk menunaikan janji penghujung tahun lalu. Janji di sebuah kereta api kelas ekonomi, menuju kota kelahirannya.
:: Hari ini ia bertemu dengan wanita itu, sebayanya, wanita yang sejak pertemuan pertama berkenalan memanggilnya "Lilo" itu. Nama yang asing, nama yang pemilik aslinya sudah tiada, 4 tahun lalu, tepat saat kecelakaan pesawat itu terjadi.

Tak Jauh, di depan lelaki itu, 5 anak perempuan sebaya keponakan kesayangannya lincah bermain tali, sesekali diselingi cekikikan dari mulut mereka. Benar-benar bahagia, gumamnya.

Lelaki itu tertawa renyah, kecil, hingga sederet gigi atasnya terlihat, ada bahagia tersirat di wajahnya. Sejurus kemudian ia memejam mata, mereguk udara sedalam-dalamnya, lalu melempar ingatan ke masanya sewaktu kecil, di halaman rumah.

"Lo,"
Suara itu, panggilan dari Wanita itu, Ia menoleh, sekali lagi matanya menangkap rumah yang menyisakan ornamen lama, pola atisian Belanda.
Lelaki itu bangkit, melangkah menghampiri, mengangguk dengan wajah datar.
Satu kalimat yang bisa ia simpan di catatan harian tuanya: Ibu wanita itu sudah uzur, sakit-sakitan, merindukan anak lelaki satu-satunya yang sudah mendahuluinya. Bahwa cerita wanita itu yang mengundangnya, rasa kangen Ibu itu yang membawanya, dan sebentar lagi senja memaksanya, pulangkah? Atau kembali? Entahlah, yang ia ingin hanya bertahan, di hati yang benar-benar sederhana baginya, yang memelukkan tenang lewat senyuman sehangat rembulan...

#rumahira