Kamis, 02 Mei 2013

Jejak Hujan Kita di Beranda #97- #92

design by kotaKecil

BERANDA #97


:: Sepi & terjaga. Sementara di luar sana hujan masih betah memainkan melodinya, yang selalu buatku lega, kala mendengarnya.

Di sini, di ruang tamu 4x3 ini, menarik semua garis, bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Jarak benar-benar memihak. Tidak ada lagi ruang, tidak ada lagi senggang, yang ada hanya kenangan kita yang bercengkrama, yang menikmati rinai-rinai & meninggalkan jejak-jejak di genangan sisa hujan kala senja, yang basah, dan benar-benar basahi kita.

Aku banyak belajar, kamu pun kuharap begitu. Dan tidak ada yang patut disesali untuk jalan yang pernah kita lalui ini.

Meski, yakinilah, selagi berdenyut nadi, selagi hujan masih menyentuh hari, tetap, ada doa dari hati yang seadanya, yang terlipat sederhana, tanpa sampul berwarna perak, untuk orang-orang yang menanam baik di diri, termasuk untukmu-selalu...

#rumahira

[disajadahtuayangbasah]





BERANDA #96

:: Nanti, suatu senja tanpa warna, waktu menemukan kita. Saat kau datang dengan bocah kecil yang mewarisi wajah teduhmu, yang terlihat manis berkuncirkuda dan berbaju merahmuda.

Tidak ada kata-kata yang mengudara. Dan aku pun tak kuasa mengalihkan kebisuan, hanya sepotong pertanyaan yang flat; "Bagaimana kabar kalian?"

Sementara bibir mungil di sebelahmu, tak sungkan menanyakan benda-benda yang menarik perhatiannya, aku membantu menjelaskan dengan sabar.

Barusan bocah kecilmu menarik pelan kemeja kotak-kotakku. Aku meminta ijin untuk menggendongnya di pundak, kamu mengangguk. Dan aku merasai seperti Rai, anakku sendiri.

Di belakang kami, tidak ada yang tahu, ada bening jatuh dari korneamu. Deras.

#rumahira #kotakecil



BERANDA #95

:: Aku hanya miliki rindu, ini sederhana.

Sesederhana tatapan kita yang menikmati garis-garis bening ini.

Sesederhana daun-daun depan rumah yang berayun-ayun karna tertimpa oleh basah.

Aku hanya rasai rindu, itu sederhana.

Sesederhana angin yang membawaku ke tempat ini, dimana mimpi & senyum itu mekar.

Sesederhana membaca alif-ba-ta-tsa, di mana rinai-rinai selalu sisakan genang kenangan, untuk bayangan...

#rumahira



BERANDA #94
:: Masih di beranda, di meja bundar kita. Angin sepoi mengelus pipi kita.

"Mas kecewa pada mereka?" tanyamu, sambil memutar-mutar cangkirnya.

"Kenapa kecewa? seharusnya aku tahu diri dari dulu..." jawabku dengan senyum kecut.

"Mas, aku tahu, kamu tahu, kita juga tahu kalau kita tetap kotak kecil di mata mereka..." sahutmu lembut, menenangkan. "Ya sudahlah, meski dihujani batu, kita balas aja dengan buah yang ranum lagi manis, Mas kan jadi tambah manis..."
lanjutmu dengan nada menggoda.

Senyum beradu.

#kolaSEnja


BERANDA #93
:: Pagi teduh. Berbicara Ku pada hujan, ihwal doa-doa yang jatuh bersama rinai-rinainya. Ada doa ku di sana, harap yang ku uap dari setangkup tangan kecil, serangkai harap yang benar-benar bening. Untuk tiap-tiap hati yang dekat, tiap-tiap hati yang lekat...

#rumahira



BERANDA #92
:: Ada rasa yang menjalar, rasa yang tereram dalam sisa-sisa tetes hujan kemarin. Di genangan trotoar tua, di antara kecipak kaki bocah yang lebur dan basah dalam lerai tawa.

Kita berkaca di sana, lantas selaksa hidup di dunia genangan, di sana raut kita bercengkrama dalam diam tatapan, dalam rekam senyuman...

#Jejak.hujan.kita





Beranda #98


:: Di beranda, di meja bundar kita. Langit gelap, awan bergulung-gulung, lekas, seolah terburu menuju pagi. Sementara di sini, Kita mengamati butir-butir hujan, masih memaksakan diri untuk tetap duduk bersila, meski dingin terus-menerus menerobosi jaket kita.

"jatuh dari tepi atap rumah..." gumammu, aku menoleh, menggeleng pelan. mata kita bertubrukan. ada tanya menggantung di sana. Aku melempar pandangan ke garis-garis bening di hadapan kita.

"Kau tahu? butir-butir hujan ini jatuh jauh dari celah langit, jauh sekali. Benar, bahwa kita tak pernah mampu mengukur kepastian jarak jatuhnya ke bumi" kataku pelan.

Tetapi ada satu hal, dan kita percayai itu, setidaknya sampai detik ini, bahwa
"Ya, hujan selalu membawa kita kembali, pulang pada kenangan, membuat kita basah dan tak mampu berkata-kata..." sahutmu parau. ada genangan di sana, di mata.

#rumahira

Beranda #99

 :: Di beranda, masih di meja bundar kita. Senja mulai memeluk malam. Untuk ketiga kalinya, terdengar lagu "Hingga Ujung Waktu" dari dalam rumah ini.

Miaw masih meringkuk di pangkuan, meminta dielus-elus. Sementara di atas meja, di antara lembar-lembar tulisan, ada satu buku; yang menunggumu...


~Selamat hari buku sedunia~


#rumahira