Kamis, 17 Februari 2011

Dialog Dua Jiwa


Dialog Dua Jiwa
doc.pribadi

Semula biasa saja, aku dan dirimu sudah terbiasa. Tidak ada yang istimewa mengikat hati kita. Hanya sepotong kata yang kerap menjadi bahan obrolan, itu pun sekedar, sungguh tidak ada yang istimewa. Namun kini, setelah kejadian itu, kita semakin jauh berlayar dari pandangan yang kian hambar.
***
Malam itu, engkau menemuiku disaat malam masih basah. Ketika bulir hujan masih menempel di dedaunan. Sosokmu menemuiku dengan tangis yang pecah, dibarengi hati yang koyak. Akh, adinda mengapa begini? Siapa yang tega mengalirkan air mata beningmu? Siapa? Ah!

Kau mengangsur jawaban, mencoba menggurat senyum walau kutahu itu menyesak di hatimu. Aku faham, jauh di sudut hatimu ada luka yang menganga lebar. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu, walau kuyakin –setelah sembuh pun- bekas luka itu akan tetap ada.

Aku tertunduk lusuh mendengar guyuran resahmu. Apa yang kau ujar ibarat membuka lembar masa lalu. Sesuatu yang sempat kusimpan rapi di laci hati, berharap menjadi kenang sejarah yang cukuplah segelintir saja yang menyimpannya rapi. Tapi, ketika kau ujar perihmu, saat kurasa gundahmu, aku tak kuasa, aku terbawa, tercabik, tertipu. Ah!

Sebenarnya semua itu bermula dari perasaan.Yah, jangan pernah menyalahkan perasaan orang lain terhadapmu, tapi harusnya orang lain pun harus menghargai perasaanmu. Harus imbanglah.

Adinda, ingatkah akan tawaran sepotong hati yang sempat tertolak olehmu? Sadarkah, kini ia merentang jarak, mungkin samar atau tidak terlihat bagi yang lain, tapi tidak oleh kita-terutama kamu. Yah, sekali lagi kita belajar untuk tidak mengajari orang berfikir dan bersikap, tapi cukuplah sekedar mengajaknya bercermin. Walau begitu, biarlah waktu yang mengejakan. Toh, jika kita baik tentu akan tetap baik di mata yang baik dan yang maha baik. Bukankah dengan begini kita akan jadi yang lebih baik?

Embun menggantung di dedaunan. Pagi yang menakjubkan! Mataku masih berat terkuak tatkala telingaku terguyur ajakanmu untuk menyambung dialog yang sempat terputus oleh mimpi. Kembali-dan selalu- kita beradu ujar serta menyemat bahagia di relung masing-masing. Terimakasih telah bijaksana menjadikanku anugrah terindah itu, tempat yang kini kau pilih untuk jadikan dermaga atas kapal resahmu.

Yah, kusadari benar. Bahwa dermaga lain sering mencibirmu yang kerap memilih berlabuh di dermagaku. Sempat tidak engkau dengar? Selentingan kabar berujar, akulah dermaga yang lupa pasak. Ah! Tapi begitupun syukurlah engkau meyakiniku tidak begitu, dan nyatanya memang tidak bukan? Bagiku pasak tetaplah pasak. Ia menjadi pondasi dalam kehidupan sebuah dermaga, tetapi sadarkah? Tidak layak rasanya bila pasak diletakkan di permukaan Dermaga. Bukankah ini akan menjungkal semua yang ada?


Akh, adinda. Perkenalan kita memang masih cambah, bahkan sangat pagi. Sekedar mengenal satu sama lain saja masih mengeja, dialog kita kerap berbuntut tanya yang tak berujung, tapi lihatlah betapa kita menikmati tiap detik kebersamaan ini. Ah! aku bahagia melihatmu menyuguhkan semyuman. Benar-benar pelepas penat yang kerap menyengat.

Kadangkala, hingga pagi menelan malam kita masih larut dalam dialog-dialog yang berujung dengan dengkur di kamar kita masing-masing. Lantas, tatkala garis pagi menyembul dan adzan membangunkan kita, kembali mengingatkan akan dialog yang belum juga usai tadi malam. Dialog yang mungkin tidak penting, tapi bisa jadi penting.

Adinda, gundah yang menyemat di hatimu tidak akan luruh jika kapalmu masih terombang-ambing di laut kehidupan. Bila belum juga kau pastikan dermaga dan menambat kapalmu, tentu dermaga yang lain akan mencari kapal lain yang masih terombang-ambing di lautan, setidaknya berkuranglah.

Kini, banyak mercusuar menyinarkan lampunya ke arahmu. Dengan kerlip yang terang. Menyorotmu dengan cahaya yang berbalut kabut. Ada berkas sinar yang keras, lembut dan samar. Hmm, Banyak benar pilihanmu untuk berlabuh. Aih! Enak betul.


Siang merambat. Peluh melekat di keningmu yang putih. Sepasang mata di sudut pintu menatap kita yang sedari tadi tidak menyadari keberadaannya. Sepasang mata yang tidak asing. Hei! Lihatlah, sinar itu lain, entahlah sinar apa yang ia pancarkan, sinar yang dingin dan menyelusup ke tulang.
Tak menunggu lama, seperti tersihir kita melihatnya. Yah! Sepasang mata itu menyiratkan api. Hei! Baru kusadar itu api cemburu. Aih! Sepasang mata itu cemburu? Gawat!

Siang meredup, lamat waktu merambat ke barat. Yah, baru kusadar sepasang mata itu adalah dermaga yang turut menyorotmu kemarin. Tak hanya ke arahmu, tapi juga ke dermagaku. Engkau tentu telah merasakan keras pendar sinarnya bukan?


Sekarang, sekalipun dialog kita masih berlanjut, sesering apapun kita meraut rindu, seperti yang sudah kukatakan sedari awal, biarlah waktu mengejakan, aku tidak mengikatmu dengan ikatan yang terlalu kuat, aku juga tidak ingin lagi jadi dermagamu.

Lihatlah, bila aku bersikukuh menjadi dermagamu, bukankah kita dipisahkan oleh pijakan? Dan aku pun riskan akan lepasnya ikatan oleh sayatan tajam pada tali penambat kita atau putusnya rantai jangkarmu. Jadi, jika kamu mau, ijinkan aku mengubah wujud menjadi jaket barumu, bagaimana? Ruang Imaji KOMA ( November 2010 )

*Cerpen ini dimuat di Medan Bisnis