Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 September 2013

Janji Haikal

doc.lena mirisola.


                                                             Oleh : Ardha Mahira*

Tidak sahabatku, tidak saja pada kenangan, tapi juga pada dirimu, seutuhmu. Aku berjanji! Pada ibumu yang dzuhur tadi barusan saja disemayamkan, yang tanahnya masih merah bata, masih basah.  Aku berjanji dalam genggaman  tangan keriput ibumu yang kian melemah kemarin, pada suara yang makin merendah itu. Aku akan menjagamu, membawamu ke sudut sempit kota tua ini. Aku berjanji sahabat, redakan raut lara itu, tenanglah. Masih kurengkuh wajah sayu itu, yang  tangisnya seperti bocah.
***

Sahabatku, kamu masih ingat kan? Ketika kita kecil dulu, selepas mega ditelan malam, selekas  suara kaset mengaji menggerayang  telinga, menyeruku yang masih telanjang dada berendam di tepian sungai yang dangkal, yang berkali-kali menyerumu yang masih  saja pamer salto belakang  dari pohon jambu biji yang dahannya menjorok ke sungai.
Para bangau di pematang  sawah melintas di atas kepala, meninggalkan kita. Kepak sayap mereka pulang ke sarang, membawa sejumput rezeki hari ini. Saat itu juga, kita sudah berlari-lari, membawa belut-belut gemuk yang menggantung, terikat pada seutas tali dari ilalang tua. Kita menyusuri jalan setapak dengan hati-hati, karena kaki kita masih basah, karena jalan sudah serupa warna tanah yang disepuh merah pucat senja.
 Sambil sesekali berlari, kita memeras baju yang berbau lumpur, memutar-mutarnya seolah baling-baling helikopter. Kita cekikikan sampai di rumah untuk berganti sekenanya, lantas aku bergegas menyambar sarung yang mulai pudar warnanya, sangit baunya.
Sambil memengunyah singkong goreng yang sedari tadi aku kantongi dan mengenakan sarung dengan gulungan yang asal jadi, mulutku yang penuh makanan itu memanggilmu dari halaman rumah. kali ini teriakanku disahuti omelan emakku, “nggak  tahu maghrib Kal?”
Untung saja emak masih sibuk dengan kepingan emping belinjo yang dari siang tadi dihamparnya di teras rumah. Oi, tentu saja kamu mendengarku, karena tiba-tiba sosokmu melesat,  melompat dari daun jendela tak berjeruji dengan sarung melingkar, seperti maling saja kurasa, makin komplit gelar itu karena kamu dengan wajah cemas menenteng selop butut cunghai. Haha, itu kan selop bapakmu, selop awet! Aku berani bertaruh, kamu pasti baru saja memutuskan selop untuk ke-3 kali dalam seminggu ini.
“Parah benar kamu Wan, kakimu itu lasak bukan main ya!” ledekku yang tak kau gubris saat itu.
“Wusss…! “  Seperti angin kau  meninggalkanku beberapa meter, dalam sekejap.
            “Woiii…!” seruku, yang tanpa ba-bi-bu mencincing sarung layaknya orang bercelana kedodoran. Beberapa  saat kemudian kita berebut jalan setapak, jalan  yang hanya bisa dilintasi satu-satu. Kamu selalu saja mendahuluiku, mengalahkanku dalam kecepatan.
Sesampai di gerbang  masjid,  berdua kita buru-buru ke arah pancuran bambu guna mengambil wudhu. Di seberang, tepatnya di dekat beduk yang tiap Idul Adha diganti kulitnya itu, Pak Coan sudah  berkacak pinggang, bulunya yang lebat terpamer di lengan, juga menyembul di bidang dadanya, sedikit. Buntelan sarungnya begitu menonjol dan membuat perutnya yang melar itu  terlihat tambah  gendut.
“Wan, kayaknya balon di perutnya udah seperti orang hamil 7 bulan saja ya…” bisikku. Kamu membalas bisikanku dengan tawa lepas, memamerkan gigimu yang sekuning pepaya setengah masak itu.
“Hei! cepat kelien dua!” pekik lelaki itu ke arah kami dengan nada yang serak-serak basah. Ah! Pak Coan, rambutmu yang keriting hampir sebahu, berewok yang rapi dengan jambang terpelihara itu, membuatmu seperti artis idolamu, kau memang mirip (tepatnya dimirip-miripkan) dengan penyanyi yang lagunya jadi lagu wajib anak muda saat digelar keyboard pesta di kampong ini, lagu Begadang-nya om haji Rhoma Irama.
“Oke Bang Roma!” sahutmu seraya melambai tangan. Aku menyikut, takut si lelaki itu tersinggung, marah. Tapi, sosok yang disebut begitu malah menyungging senyum, khas, senyuman meradang ala Bang Haji Oma. Ganteng versi jadul. Alamak!
Berwudhu dengan air berbau lumpur membuat ktia lekas-lekas meninggalkan pancuran  dengan wudhu satu menit, lalu kita masuk ke barisan sholat yang masih diawasi oleh Pak Coan. Kamu berakting kalem seraya menyodorkan mulut ke telingaku “Sudah kayak securiti Tuhan lama-lama beliau ni lah!” keluhmu, aku hanya nyengir dan bertakbir mengikut imam.
Selepas Isya, selekas mengaji alif-ba-ta dengan Ustad  Yono. Kita bermain-main di tanah lapang, menjunjung obor dari buluh bambu bersumbu kain perca. Tangan kita berayun naik-turun, kanan-kiri, menyabungnya dengan angin agar api tak kalah oleh dingin.  
Dan seperti biasa, kamulah jagoannya, yang paling berani memulai,  menghasut aku dan anak lelaki lainnya untuk mengekor di belakangmu yang  berdiri paling depan. Niat utama pasti untuk mengganggu, menakut-nakuti gerombolan anak perempuan, terutama Delisa,  anak  guru ngaji kita yang tersohor paling cantik di antara kawanannya,  yang juga baik perangainya. Padahal kau tahu, besoknya pasti akan dijewer sama  Ustad  Yono sampai kupingmu memerah kulit rambutan masak.
“Psst! Kal, kau jangan kasi tau ya sama yang lain” Bisikmu, aku mengangguk cepat.
“apa itu?” sahutku tak kalah berbisik,
“Sebenarnya aku suka sama Delisa!” sahutmu makin pelan. Aku mencium bau tajam dari mulutmu. Ah, ya! Tadi sore kan kita baru saja makan pakai rendang jengkol. Lha, hahaha… pantasan tadi Ustad  Yono nutup-nutup idung gitu pas giliran kita nyetor hafalan surat pendek. Terkekeh aku mengingat itu. Sumpah! Kau pede habis! Haha.
“Apaa? Gak denger lah?” tanyaku beberapa saat, pura-pura tak mendengar, kamu merengut, melipat kening di wajahmu yang kian dewasa.
“sip! Rahasiamu aman…” sahutku kemudian, kamu dengan sumringah mengacung jempol ke arahku.
“udah kau bilang ke dia?” bisikku ke telingamu. Kamu mematung, memainkan mata. Aku menerka,
“belum ya?” kamu mengagguk.
“kenapa? Kau kan ganteng…”
“iyalah aku ganteng…”
“tapi gantengan aku lah!” godaku dan kita berkejaran, lagi-lagi aku kalah. Rambutku siap-siap saja dikucel-kucel olehmu.
Pernah kubilang, “kalau kau suka sama Delisa, janganlah kau bikin dia takut gitu Wan!”
Tapi, kamu tak menggubris, tak peduli, kamu selalu senang saja,  karena berhasil membuat gerombolan gadis kecil itu bertubruk ketakutan,  berlari tak beraturan,  saat itu kau selalu menceritakan ihwal hantu-hantu yang berkeliaran di rimbunan bambu yang terkenal angker itu,  membuat sekerumunan anak gadis itu ketakutan.
Wan,  Kamu, adalah keberanianku di kali sepuluh, bahkan lebih dari itu Wan. Sejak  kecil, aku kagum padamu, kamu banyak menjadi perisaiku, dari gangguan anak kampung sebelah,  yang banyak mengajariku menjelajah tiap sudut kampung, yang mengajariku berenang di bendungan, menangkap belut, naik sepeda onthel, juga membuat perangkap burung pipit dari batangan yang serupa rotan.
 “ Kau tentu masih ingat kan Wan?”
Beranda ini sepi. Hanya rona oranye di barat yang masih setia menemani.  Segerombolan bangau putih melintas, entah dari mana mereka, tapi yang pasti mereka seperti halnya hati, terkadang hati akan kembali, meski lama,  meski dengan bentuk yang berbeda, “bukan begitu Wan?”.
            Aku terus berbicara pada lelaki yang duduk di kursi roda tua itu. Lelaki yang tidak saja kehilangan fungsi kedua kakinya, tapi juga ingatannya. Komplikasi saraf di otaknya membuatnya jadi pendiam yang akut, trauma kecelakaan pun kerapkali merenggut ingatan sadarnya, hingga kini, kumasih berusaha mengembalikan ingatanmu. Aku akan membayar apapun untuk itu Wan, aku berjanji atas nama persahabatan kita yang indah, atas nama kekalnya baikmu padaku.
Aku masih terus bercerita tentang masa lalu, padamu, saat senja kian mengiring kita pada pekat. Aku terus menguak memori kita, hingga, sebuah panggilan membuatku berhenti,  sosok bersuara lembut itu menghampiri kita,
“Mas, sudah mau petang, masuk saja yuk… ”
Wanita itu berdiri di depan kita, tepat membelakangi senja. Wajahnya teduh, kepalamu menegak. Matamu memicing. Mulutmu tergerak-gerak, mengucap sesuatu, terbata. Yang kudengar kau berkata,  “De… li…saa….”


[tanah deli,02 april-10 mei 2012]

Minggu, 06 Januari 2013

Flash Fiction: Meminang Naga

Cemas. Masih hilir-mudik di sepanjang trotoar Pajak Horas.
Sesekali langkah terhenti. Sayu mataku menerawang menatap langit pagi.
Ya, tentu saja aku begitu gelisah.
Betapa tidak? Ini kesekian kali handphone di saku bergetar. Kulihat sekilas, masih namamu dengan panggilan tak terjawab belasan kali. Wanita yang terakhir ini menambat hatiku, Juwita.
Pasti tanya yang sama, "Kapan bang?"
Sebenarnya, semalam saat pekat menyemat di kota Siantar ini, aku sudah bertandang ke rumah orangtua Wita. Namun, memang aku belum berani memberi kepastian, kapan meminang Wita si boru sinaga itu.

Masih berkelebat kejadian semalam. Hanya sepotong sabit keemasan  menemani kita. Semalam aku ingin mengajakmu  membelah jalanan kota ini lagi.

"Dek, taulah kau abang cuma penarik becak" tuturku saat kami memarkir becak di tepi Lapangan Simarito.
"Tapi amang sudah tak sabar menunggu kepastian abang" timpalmu
"Iya, tapi darimana kudapat duit belasan juta itu? Ngutang? Bah, tak sudi aku!"sambarku
"Ah, abang jual saja becak ini, kan..."
"Enak aja!" potongku seraya meloncat turun dari kabin kereta. Seketika kabin berayun, lentur.
"Tak sudi abang dek! Ini turun-temurun! Dari opung!" rutukku.

Wita turun. Langkahnya menjejerku. Ia diam, seperti sadar, memaksa bukanlah cara ampuh menyelesaikan masalah. Tiba-tiba, tangannya menyentuh bahuku yang keras. Jelas kulihat bening yang mengaliri wajah itu.

 "Wita tahu, abang orangnya setia, tapi bisakah beri kepastian bang?" nada suaranya serak. Aku menatap wajah itu lekat.
"Kau sudah tau dek, setelah amang dan inang meninggal. Inilah warisan satu-satunya, ini wasiat! Abang harus jaga! Kau tak mau abang durhaka kan? Terangku memberi pertimbangan.
"Entahlah bang, semogalah Wita bisa begitu, bisa sesetia abang sama janji abang" tambahmu
"Sudahlah, usah kau terlalu larut begini, abang akan lekas berkabar, sekarang kita pulang ya?”

Wanita itu mengangguk pelan. Gegas kugeber becak motor bermesin 350 CC.
Dalam perjalanan, dalam diam.

masih sempat kuseka setitik airmataku. Dek, kuberjanji kan perjuangkan kebersamaan kita. Ya, kebersamaan aku, kau dan benda bersejarah ini. Yakinku, IA mendengar do’a kita. Ya, bukankah tuhan tak pernah tidur?



leutikaprio

                                                                                         

Minggu, 24 Juni 2012

Ihwal Kenangan


                                                                     Oleh: Arda Mahira*

Seperti biasa. Aku, kau dan pagi dengan dua cangkir biru yang masih mengepulkan aroma coklatnya. Di sini, seperti biasa, kita bersila di depan meja kayu bundar, tempat kita kerapkali mengintip pagi dan arakan awan yang bergulung-gulung di timur.

Ini jumat pagi, sisa gerimis subuh tadi masih menempel di dedaunan. Ya, ini hari libur kita, saat kita bisa “bermalasan”. Kamu dan aku memang bekerja di rumah- SOHO (Small Office House Office). Ya, di beranda ini resmi kita buka tempat usaha masing-masing, kamu dengan dunia Craft dan fotografi, dan aku dengan seabrek dunia yang berkait kepenulisan.  Sedari awal, kita sepakat memberi nama usaha dari nama kedua anak kita. Kamu sempat menolak, tapi akhirnya mengangguk, setelah teringatkan bahwa “Bukankah anak  itu pembawa rezeki?”
                                                                            ***
Seperti biasa pula, tiap pagi, selalu, ada saja kisah yang kita cakapkan. Di sini, kamu begitu bersemangat bercerita ihwal asyiknya kemarin sore saat berbecek-ria di Pajak Sukaramai. Takjub dengan pemandangan pajak yang turut diramaikan anak-anak kecil penjaja plastik kresek berukuran besar, takjub merasai bagaimana serunya berjingkrak-jingkrak melintasi jalan yang becek penuh kubangan di sana-sini sambil tawar-menawar dengan para penjual yang ramah-ramah.

Ceritamu selalu mengalir, ya, kadang, sesekali aku yang bercerita, tapi tak pernah seseru dirimu. Kamu pencerita ulung di tiap pagi kita. Kejadian Ini terus kita lakukan, tiap hari, tiap pagi. Kita tahu, ini guna mengikat tali-tali hubungan kita agar tak  terlepas sedikitpun. Tentu percakapan di beranda ini akan bermula, selepas kita beriring berjalan kaki pagi, mengantar si kembar Rai dan Najwa ke TK-nya yang tak lain TK milik Bu’de mereka, Bu’de Zulaika.

Sejam lebih. Masih di beranda. Tangan yang selalu lembut itu menjulur. Memeluk punggung tanganku. Mata kita bertubrukan. Jelas, Ada bening di sana, dalam, sangat dalam. Sesuatu yang membuatku yakini, ada lara yang menyinggahi perempuanku ini, mahluk yang seumpama malaikat, sosok yang buatku selalu lekat. Ya, berada serumah, dan masa-masa memintal rasa bersama, buatku paham betul apa yang terjadi pada wanita di depanku ini.

Ya, ini tepat tahun yang ke-5 lelaki terhebat dalam hidupmu telah lebih dulu menuju surga. Aku sangat percaya, Air mata perempuanku bukan mengalirkan rasa sedih, tapi, sungguh sebuah kebahagiaan karena memiliki kerinduan yang hebat, karena bahagia, bangga , karena mempunyai rindu itu. Ya, kerinduan pada lelaki yang dalam diamnya berbicara, yang dalam diamnya menyayangi wanita yang  sangat dijaganya, wanita yang kini kucintai.

Di sini, kita. Masih di meja bundar. Lekat kutatap perempuanku, masih ada bulir air melandai di pipimu, bulir yang ditimpa kilatan bias mentari itu. Diam jadi teman. Celotehmu yang biasa menggemericik membincang: “mas, enaknya menu makan siang nanti apa ya?” atau Tentang kritik tulisan-tulisanku yang habis kamu baca, tentang kebiasaan aneh Rai dan Najwa yang buat kita saling selidik: “ini nurun dari siapa?”, tentang kerjamu, tentang, tentang dan tentang segala hal yang membuatku selalu merasa teduh, larut, tenggelam dalam ceritamu, tenggelam dalam tatap beningmu, tapi kini kamu diam.

Aku bangkit. Masuk rumah dan kembali dengan membawa sebuah buku tebal, semacam diary. Kusodorkan itu padamu.

“ini apa?” tanyamu pelan, halus, nyaris bergumam.

“bacalah” kataku. Perempuanku hanya menatap kosong, ada tanda tanya, namun ia penasaran, apa sebenarnya buku bersampul hijau turkis itu? Tangan itu ragu menjulur. Aku lebih mendekatkan buku itu dan berkata, pelan sekali.

“ini diary  tentang kita, yang kutulis diam-diam sejak awal kita ketemuan,” aku menatap sumber beningmu, ada cahaya, “sudah saatnya kamu membacanya, mungkin ada yang terlewatku” sambungku sembari menyentuh lembut lenganmu. Kamu menatap, aku mengangguk, Kamu pun mengangguk. Ulas senyum tipis pun beradu.

                                                                                       ***

01 Maret  2010
Di toko buku Sembilan wali. Aku berniat menuju kasir, membawa sebuah buku mungil hasil mengubek-ubek tumpukan buku yang berlabel diskon 30%. Dalam hati kutertawa, konyol rasanya berjam-jam berkubang buku, eh! Yang diboyong Cuma sebiji, kecil pula, murah lagi… ck ck ck.

Selesai membayar, aku mau cepat-cepat pulang. Tapi, tak sengaja lenganku menyenggol sejumlah buku yang digenggam seorang gadis berperawakan sedang, berjilbab pink.

“Oooh!” hanya kata itu yang meluncur dari bibir tipisnya. Matanya membulat, menaikkan bulu matanya yang lentik. Sisanya, yang terdengar adalah suara buku yang jatuh kelantai.

“Braakk!” sejumlah orang melihat. Sekilas. Lalu berpaling dan kembali beralih pada kesibukanannya.
“Eh, oh, anu…” aku tergagap, “ em, maaf, maaf…” kataku terburu meminta maaf. Ada diam di raut itu, tapi tak keruh, sungguh! Ia mempesona dalam sederhananya. Benar-benar sosok yang sederhana.
“Enggak papa…” balasnya datar, dingin. Aku berinisatif memunguti buku-bukunya, dan aku mematung pada sebuah buku. Gadis itu pun mematung heran, lantas ia bertanya.
“kenapa dengan buku itu? Ada yang aneh?” tanyamu.
“nggak… nggak… aku cuman suka sama novel ini” sahutku seraya menyodorkan kembali buku tebal bercover Sembilan padanya. “aku sudah baca, 3 kali” sambungku.
“ohya? Kan bagus bukunya?” tanyanya

Begitulah, dan pembicaraan pun mengalir, deras seperti air sungai, seolah pembicaraan ini seumpama itu, terus bergerak, menandakan ada yang sama, hidup, rasa, yang kian tumbuh.


2 april 2010.
Sebuah kutipan dari salah satu novel kesukaanku.
"...Cinta itu harus diungkapkan, kecuali oleh orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri..."
Boi! Aku belum bisa ngomong apapun.

                                                                                  ***

Kamu menutup buku, lantas tersenyum. Seolah beberapa lembar laramu menguap.
“Abang masih ingat saat aku cerita tentang keluargaku, seluruhnya?” selidikmu seraya menatapku lekat-lekat. Aku mengangguk, meraih buku itu, lalu sibuk membolak-balik halaman dan menunjukkan satu lembar kusam di bagian pertengahan. Perempuanku lekas-lekas membacanya.

10 mei  2011

Kita sudah jadian. Dan sumpah! Sepertinya caraku mengutarakannya sangat konyol.Gadis itu mulai terbuka. Banyak ceritanya yang kian membuatku kagum, percaya, bahwa dilembutnya ada kekuatan yang luarbiasa, kekuatan seorang wanita, kekuatan yang dibangun dengan hati, dan cinta.

Barusan ia bercerita tentang rinai hujan yang kerap menyapa beranda rumahnya, tempat ia dan lelaki terhebatnya khidmat menikmati pemandangan kolam mungil  yang tak jauh dari rumah. Saat itu, ikan-ikan bermunculan kepermukaan dan menyuguhkan tarian terindah mereka, seolah merayu untuk ikut serta menikmati basahnya hujan. Saat-saat seperti inilah, senyum  lelaki terhebatnya tersuguh begitu bersahaja, namun melihatnya begitu, itu cukup menghangatkan hatiku. Tuturnya lirih.

Saat itu aku hanya mengangguk dan kagum dengan kedua anak-beranak ini. Pada ikatan yang ada pada mereka. Lantasku bertanya lagi, “ada lagi yang berkesan?” Tanyaku pelan, seperti berbisik. Gadis itu mengiyakan dan mengalirkan ceritanya yang lain.

 “Saat itu aku masih SMP, lebaran sebentar lagi tiba, berhubung bunda kerja, sekolahku juga tak libur, jadi kami sekeluarga belum sempat buat roti lebaran. Sore itu tercetus ide antara aku dan bunda untuk buat roti, dan yang paling menggembirakanku, ayah bersedia untuk ikut serta dalam kerepotan kami. Aku bahagia sekali, soalnya  ayahku adalah sosok pria yang sangat...hem... pokoknya enggak nyangka mau berpartisipasi dalam hal dapur. Anehnya lagi, besok ayah memberi kejutan yang hingga kini paling aku ingat, ia belikan  mainan mobil – mobilan warna putih berukuran sedang, mainan kesukaanku, saat itu  aku sangat bahagia, sangat.”

Saat kau bercerita tentang itu, senja sudah mulai tenggelam di barat. Meski kelihatan lelah, gadis itu masih terus bercerita, seolah ia memang harus menumpahkan semuanya, segala isi hatinya. Ya, hari ini tlah ada yang mempercayakan hidupnya padaku, aku akan menjaganya, gumamku.

                                                                ***
Pagi ini. Masih kau rindui hujan itu? Basah yang menimpa-nimpa kepala, memantulkan percikan kenangan? Masih tergenang lara itu? Tempat berkaca, melihat masa lalu, merindu, meski kita yakini masa lalu adalah sesuatu yang hanya bisa kita miliki dalam bingkai kenangan.

Kita. Masih di meja bundar. Di sini, jam yang sudah pada angka 10, langit sepi, udara pun enggan hilir-mudik membawa udara yang masih juga mendung. Ah, cocok benar siang nanti makan tempe mendoan dan sayur genjer khas buatanmu, batinku.

Aku menatapnya lekat-lekat, mendekatkan wajahku dan berbisik lirih “Ti, bahuku kan selalu ada untukmu. Selalu.”  Janjiku, kukuh.

Pagi sudah merangkak siang. Cuaca masih teduh. Kita melangkah meninggalkan beranda, memasuki rumah. Tak lama, celoteh riang kita terdengar, dari arah dapur.  
                                                                 ***
                                                                 Dimuat di Harian Mimbar Umum, 23 Juni 2012
                                                                 Terangkum dalam Kumcer "Antara Aku, Kau & Hujan"
                                                                  DuniaKOMA, 17.32.11.4.12.




*arda mahira adalah nama pena saya... ^_^

Jumat, 13 Januari 2012

Antara Aku, Kau dan Hujan


cover depan

 Gerimis masih menggaris di etalase toko.Sama sepertiku yang kini menggarisi rindu. Ya, rindu padamu, perempuan pecinta hujan.



Dulu, kerapkali kudengar senandungmu tentang hujan dan seperti biasa aku pun larut di dalamnya. Sungguh, suaramu dan hujan adalah paduan suara yang indah, teramat indah. Sesuatu yang indah diingatan, setidaknya hingga hari ini.
“Maaf,” Sepotong katamu saat itu terangsur. Aku tahu, dari gurat wajah yang mengeras, dari jari manismu yang kini telah terlingkar cincin sakral. Aku tahu, telah tertutup sudah asa untuk memilikimu.
 Ah! Segalanya seperti mimpi. Andai engkau sudi berkisah tentang lelaki pilihan keluargamu itu, tentu aku berlega hati dan bisa menerima kata maafmu, setidaknya saat ini.
Kau, perempuan berparas manis datang sore ini ketika gerimis bertandang. Tepat ketika aku pulang dari kantor dan berteduh di emperan toko. Berdiri bersama tubuh-tubuh yang terjebak garis-garis hujan. Di sini, aku menunggu bus atau becak yang akan mengantar ke tempat reparasi sepeda motorku.
Di tempat ini pula, kita  bertemu, aku senang kamu datang. Hanya ulas senyum yang tersungging, tak ada  tingkah lain. Hanya diam dan kagum yang menyemat. Betapa merasa sangat beruntung menemukanmu lagi di tempat ini.
Perempuan bertubuh cahaya, gumamku. Dalam diammu yang dingin, kamu menyihir korneaku untuk senantiasa melirik. Oh! Mata berpelangi itu sangat magnetis! Batinku.
Aku beruntung, mungkin lebih tepat dikatakan takdir. Baru tiga detik yang lalu, seorang ibu tua dengan bawaan banyak menabrakku. Ini ibu itu meminta maaf, berkali-kali seraya menyumpah-nyumpah dirinya yang kurang awas. Tangan yang keriput itu mencoba membersihkan kemejaku yang terkena saus dagangannya.
Tanganku segera menahan. Pelan, sopan. Kurasa tidak pantas sesosok tua memperlakukanku begitu, apalagi bukankah ini tidak sengaja dilakukan.  Aku bergumam, risih.
Sambil tersenyum teduh, aku membantu ibu tua itu mengemasi dagangannya. Tanpa disangka, kamu memerhatikan, turut jongkok  mendengarku yang berceloteh ringan menghibur si ibu tua. Mata kita sempat beradu, ada beberapa detik, semacam magnet yang menahan kedipan. 
Selesai. Sebelum ibu itu beranjak, masih sempat aku selipkan beberapa lembar rupiah  ke dalam lipatan daun pisang dagangannya, sembari menitip pesan agar lebih berhati-hati.
Mataku masih mengekori sosok itu. Ah! Betapa aku tersentuh. Masih kutatap langkah ringkih itu hingga di tikungan pertokoan. Ibu tua berhenti dan menggelar dagangan di sudut emper yang terlindung dari tempias hujan. Sebentar saja, berkerubung pembeli. Pelangggannya mungkin, gumamku.
Aku tak sadar, entah sejak kapan mata yang sesejuk hujan itu memerhatikanku. Aku melihatmu. kamu berpaling, aku pura-pura menyembunyikan wajah di balik koran. Selang beberapa waktu aku memejamkan mata. Meredup sejenak.
Ada yang dingin merambat, mengalir lembut, suara itu. Perlahan kuturunkan koran. Sempat aku ingin melonjak saat wajahmu yang tiba-tiba menyembul di balik lembaran koranku.
Berlagak kalem, sempat kuangsur tanya. Kau menjawab dengan seulas senyum bijak.
”Maaf bang, korannya kebalik!” katamu yang serta merta membuat wajahku pias.
Tak mau berlama menanggung malu, bergegas kutembus hujan sembari mendekap tas yang berisi beberapa lembar tulisanku.
Engkau memanggilku. Tepatnya memanggil namaku. “Hari! Kamu masih menulis cerpen?” Bait tanya menyerbu bak hujan, menimpa-nimpa kepala. Kamu mengejarku lalu mengimbangi langkahku yang cepat.
“Masih,” jawabku pendek
“Ehem! Apakah masih menulis tentangku?” sambungmu. Aku menatap, kamu membulatkan mata, lucu.
Aku menggeleng. Rambutku yang lumayan lebat membuat beberapa percik air membasahi wajah putihmu.
“Eeh! maaf,” Ujarku gugup melihat ulah yang kubuat sendiri.
“Sudah ada yang lain ya? Maaf kalau begitu, nggak apa, tapi aku suka lihat kamu bantu ibu tua tadi, jarang ada pemuda seperti itu,”
“Oh... Iya, makasih,” sambungku datar.
“Kau tahu, aku selalu bahagia saat hujan turun seperti ini,” Ujarmu seraya mendongakkan wajah. Tangan kaurentangkan seolah ingin memeluk hujan.
Ah! Perempuan yang aneh. Bukankah bedak di wajahmu akan luntur? Tapi, hei! Aku tidak melihatnya menyeka wajah karena itu. Wajahmu benar-benar polos, tak merias muka.  Masih ada perempuan sebegini cantik? Tanpa poles kosmetik? Gumamku sambil tetap memandangi wajah yang masih juga menengadah itu. 
Tubuh kita kian basah. Tulisanku yang baru saja kuketik pun akan bernasib sama. Entahlah! itu tak kupedulikan. Kurasa amat sayang meninggalkan  saat-saat bersamamu. Sungguh, aku mencintaimu lagi dalam waktu sesingkat ini, dalam debur hujan yang kian deras.
Kamu masih juga berceloteh. Tentang kisah hujan. Masih seputar hujan. Masih saat hujan. Rambutmu yang ikal itu kini lurus mengikuti air yang mengalir membasahi baju merah mudamu.
Kamu mengajakku berlari, sesaat kita berhenti untuk melepas sepatu. Aku kerap berpesan agar hati-hati, kamu mengangguk sembari tertawa riang. Aku tak tega menahan, kuikuti larimu yang kini menuju lapangan.
Tampak sekerumunan  anak kecil, kau mengitari mereka dan ikut larut bermain kecipak air. Anak-anak itu tak terusik sama sekali, mereka semakin riang bermain dan saling melempar lumpur.
Kamu menarikku, mengajak turut berkecipak dalam satu kubangan. Aku terpeleset, kamu terkekeh sehingga menyembulkan deretan gigimu yang serupa awan terang.
 Ah! matamu yang serupa telaga membuatku urung menasehati, aku malah tertawa lepas. Aku mengejar, dapat! Tanganmu sempat kutangkap, tapi karena licin akhirnya pegangan itu terlepas dan kamu tergelincir, jatuh dalam genangan air yang bercampur guguran dedaun.
Kamu meringis seraya merengek memintaku menarikmu bangkit dari kubangan itu. Aku iba, lekas kujulurkan tangan. Ow! Aku lengah, curang! Kamu membalasku. Kini kita berdua tercebur dalam kubangan itu. Kemeja kotak-kotakku kian lamur, celana flanelku pun bersimbah lumpur. 
Kamu menatapku. Dalam. Sekejap tersenyum, tapi licik! Kedua tanganmu menciduk air dan menyiramnya ke arahku. Tak pelak wajahku semakin tak karuan. Aku membalas. Kita berbalasan. Kita tergelak, bebas, bahagia.
     Ah, Ulahmu barusan tidak lantas buatku marah, kamu memang seumpama hujan, menyejukkan dan mengail rindu untuk menemuimu. Ya, perempuan hujan, aku memanggilmu. Walau kadang menyebalkan, engkau selalu kurindukan, benar-benar persis seperti hujan.
Hujan bersalin gerimis. Sebentar lagi pasti akan reda dan senja yang merona merah saga itu akan menyapa kita. Kini kulihat wajahmu, tanganmu, tubuhmu, bibirmu, memucat. Aku tanya mengapa, kamu hanya membisu. Kedua bola matamu malah asyik menekuri rinai hujan yang masih membasah di rambutku.
“Aku harus pergi,” ujarmu
“Ya, aku juga, pakaian ini sudah kotor sekali,” balasku mencoba mengeja jalan pikiranmu
Gerimis mulai kudengar. Ya, kali ini gerimis itu mengalir darimu.
“Mungkin kita sudah cukup bersama...” ujarmu yang perlahan mendaratkan usapan halus di wajahku. Aku terdiam, terpejam, sebentar.
Perlahan kubuka mata. Semua masih sama, genang air masih kecoklatan. Rinai hujan masih setia membasah kepala, pakaian masih berlumur lumpur, juga sekawanan anak kecil bertelanjang dada  yang kini menyambangi. Senyum mereka potret bahagia. Sembari memeras baju yang bau lumpur, mereka mendekat.
“Bang! Enak kan main hujan sama kami?” sapa mereka polos
“Oh eh, iya dek, kesinilah...” panggilku masih dengan wajah celingukan mencarimu. Mereka melingkar, merapat. Aku menatapi mereka satu persatu.
“Abang boleh nanya nggak?” tanyaku sembari mengeluarkan beberapa bungkus gula-gula dari tas. Tanpa kutawari, semua sudah berpindah ke mulut-mulut kecil itu.
Aku tersenyum melihat binar polos mata mereka saat mengulum gula-gula pemberianku.
”Abang mau nanya apa tadi?” tanya seorang anak kecil berkepang dua. Aku tersadar.
”Eh, kakak cantik yang bareng abang tadi mana ya? Kalian tahu kemana dia pergi?”
”Kakak cantik? Cewek abang ya?”
”Iya benar, ada lihat?”
”Nggak ada. Dari tadi kan kita main hujan cuman sama abang”
”Beneran?”
”Masak kami bohong?”
Gerombolan anak itu meninggalkanku. Sayup senandung  mereka tentang hujan lirih mengalir. Aku terenyuh. Apa mungkin kualami halusinasi sebegini dalam? Ya, tepatnya setelah kamu berkabar akan menikah dengan lelaki yang tak lain ayahku sendiri.
                           (Basah di kotamu, 2010)

Cerita "Antara Aku, Kau dan Hujan" ini jadi judul kumcerku.





Rabu, 06 April 2011

Tanya Yang Tak Tereja

doc.yula
    Ada tanya yang terpendam, tak terejakan. Tanya yang kerap hadir saat garis senja terbenam. Bait atau syair gelisahmu itu menjalari malam yang menyibukkanku. 

Rerimbun tanya dan tanya yang tidak akan terjawab, sebab angin melarikan tanya dan pekat menyisipkan jawab, di saku mimpi.

Udara pagi menusuk. Sinar rembulan meredup terbalut pekatnya kabut. Jiwamu yang tersapa hampa kian gelisah oleh kata-kata yang sedari tadi tumbuh di mimpi. Senyap mulai semaikan ribuan puisi kerinduan, tapi penuh kemayaan.

Selengkapnya dimuat di buku kumcer Sebingkai Cerita *segera terbit!

Kamis, 17 Februari 2011

Dialog Dua Jiwa


Dialog Dua Jiwa
doc.pribadi

Semula biasa saja, aku dan dirimu sudah terbiasa. Tidak ada yang istimewa mengikat hati kita. Hanya sepotong kata yang kerap menjadi bahan obrolan, itu pun sekedar, sungguh tidak ada yang istimewa. Namun kini, setelah kejadian itu, kita semakin jauh berlayar dari pandangan yang kian hambar.
***
Malam itu, engkau menemuiku disaat malam masih basah. Ketika bulir hujan masih menempel di dedaunan. Sosokmu menemuiku dengan tangis yang pecah, dibarengi hati yang koyak. Akh, adinda mengapa begini? Siapa yang tega mengalirkan air mata beningmu? Siapa? Ah!

Kau mengangsur jawaban, mencoba menggurat senyum walau kutahu itu menyesak di hatimu. Aku faham, jauh di sudut hatimu ada luka yang menganga lebar. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu, walau kuyakin –setelah sembuh pun- bekas luka itu akan tetap ada.

Aku tertunduk lusuh mendengar guyuran resahmu. Apa yang kau ujar ibarat membuka lembar masa lalu. Sesuatu yang sempat kusimpan rapi di laci hati, berharap menjadi kenang sejarah yang cukuplah segelintir saja yang menyimpannya rapi. Tapi, ketika kau ujar perihmu, saat kurasa gundahmu, aku tak kuasa, aku terbawa, tercabik, tertipu. Ah!

Sebenarnya semua itu bermula dari perasaan.Yah, jangan pernah menyalahkan perasaan orang lain terhadapmu, tapi harusnya orang lain pun harus menghargai perasaanmu. Harus imbanglah.

Adinda, ingatkah akan tawaran sepotong hati yang sempat tertolak olehmu? Sadarkah, kini ia merentang jarak, mungkin samar atau tidak terlihat bagi yang lain, tapi tidak oleh kita-terutama kamu. Yah, sekali lagi kita belajar untuk tidak mengajari orang berfikir dan bersikap, tapi cukuplah sekedar mengajaknya bercermin. Walau begitu, biarlah waktu yang mengejakan. Toh, jika kita baik tentu akan tetap baik di mata yang baik dan yang maha baik. Bukankah dengan begini kita akan jadi yang lebih baik?

Embun menggantung di dedaunan. Pagi yang menakjubkan! Mataku masih berat terkuak tatkala telingaku terguyur ajakanmu untuk menyambung dialog yang sempat terputus oleh mimpi. Kembali-dan selalu- kita beradu ujar serta menyemat bahagia di relung masing-masing. Terimakasih telah bijaksana menjadikanku anugrah terindah itu, tempat yang kini kau pilih untuk jadikan dermaga atas kapal resahmu.

Yah, kusadari benar. Bahwa dermaga lain sering mencibirmu yang kerap memilih berlabuh di dermagaku. Sempat tidak engkau dengar? Selentingan kabar berujar, akulah dermaga yang lupa pasak. Ah! Tapi begitupun syukurlah engkau meyakiniku tidak begitu, dan nyatanya memang tidak bukan? Bagiku pasak tetaplah pasak. Ia menjadi pondasi dalam kehidupan sebuah dermaga, tetapi sadarkah? Tidak layak rasanya bila pasak diletakkan di permukaan Dermaga. Bukankah ini akan menjungkal semua yang ada?


Akh, adinda. Perkenalan kita memang masih cambah, bahkan sangat pagi. Sekedar mengenal satu sama lain saja masih mengeja, dialog kita kerap berbuntut tanya yang tak berujung, tapi lihatlah betapa kita menikmati tiap detik kebersamaan ini. Ah! aku bahagia melihatmu menyuguhkan semyuman. Benar-benar pelepas penat yang kerap menyengat.

Kadangkala, hingga pagi menelan malam kita masih larut dalam dialog-dialog yang berujung dengan dengkur di kamar kita masing-masing. Lantas, tatkala garis pagi menyembul dan adzan membangunkan kita, kembali mengingatkan akan dialog yang belum juga usai tadi malam. Dialog yang mungkin tidak penting, tapi bisa jadi penting.

Adinda, gundah yang menyemat di hatimu tidak akan luruh jika kapalmu masih terombang-ambing di laut kehidupan. Bila belum juga kau pastikan dermaga dan menambat kapalmu, tentu dermaga yang lain akan mencari kapal lain yang masih terombang-ambing di lautan, setidaknya berkuranglah.

Kini, banyak mercusuar menyinarkan lampunya ke arahmu. Dengan kerlip yang terang. Menyorotmu dengan cahaya yang berbalut kabut. Ada berkas sinar yang keras, lembut dan samar. Hmm, Banyak benar pilihanmu untuk berlabuh. Aih! Enak betul.


Siang merambat. Peluh melekat di keningmu yang putih. Sepasang mata di sudut pintu menatap kita yang sedari tadi tidak menyadari keberadaannya. Sepasang mata yang tidak asing. Hei! Lihatlah, sinar itu lain, entahlah sinar apa yang ia pancarkan, sinar yang dingin dan menyelusup ke tulang.
Tak menunggu lama, seperti tersihir kita melihatnya. Yah! Sepasang mata itu menyiratkan api. Hei! Baru kusadar itu api cemburu. Aih! Sepasang mata itu cemburu? Gawat!

Siang meredup, lamat waktu merambat ke barat. Yah, baru kusadar sepasang mata itu adalah dermaga yang turut menyorotmu kemarin. Tak hanya ke arahmu, tapi juga ke dermagaku. Engkau tentu telah merasakan keras pendar sinarnya bukan?


Sekarang, sekalipun dialog kita masih berlanjut, sesering apapun kita meraut rindu, seperti yang sudah kukatakan sedari awal, biarlah waktu mengejakan, aku tidak mengikatmu dengan ikatan yang terlalu kuat, aku juga tidak ingin lagi jadi dermagamu.

Lihatlah, bila aku bersikukuh menjadi dermagamu, bukankah kita dipisahkan oleh pijakan? Dan aku pun riskan akan lepasnya ikatan oleh sayatan tajam pada tali penambat kita atau putusnya rantai jangkarmu. Jadi, jika kamu mau, ijinkan aku mengubah wujud menjadi jaket barumu, bagaimana? Ruang Imaji KOMA ( November 2010 )

*Cerpen ini dimuat di Medan Bisnis