Sabtu, 07 September 2013

Janji Haikal

doc.lena mirisola.


                                                             Oleh : Ardha Mahira*

Tidak sahabatku, tidak saja pada kenangan, tapi juga pada dirimu, seutuhmu. Aku berjanji! Pada ibumu yang dzuhur tadi barusan saja disemayamkan, yang tanahnya masih merah bata, masih basah.  Aku berjanji dalam genggaman  tangan keriput ibumu yang kian melemah kemarin, pada suara yang makin merendah itu. Aku akan menjagamu, membawamu ke sudut sempit kota tua ini. Aku berjanji sahabat, redakan raut lara itu, tenanglah. Masih kurengkuh wajah sayu itu, yang  tangisnya seperti bocah.
***

Sahabatku, kamu masih ingat kan? Ketika kita kecil dulu, selepas mega ditelan malam, selekas  suara kaset mengaji menggerayang  telinga, menyeruku yang masih telanjang dada berendam di tepian sungai yang dangkal, yang berkali-kali menyerumu yang masih  saja pamer salto belakang  dari pohon jambu biji yang dahannya menjorok ke sungai.
Para bangau di pematang  sawah melintas di atas kepala, meninggalkan kita. Kepak sayap mereka pulang ke sarang, membawa sejumput rezeki hari ini. Saat itu juga, kita sudah berlari-lari, membawa belut-belut gemuk yang menggantung, terikat pada seutas tali dari ilalang tua. Kita menyusuri jalan setapak dengan hati-hati, karena kaki kita masih basah, karena jalan sudah serupa warna tanah yang disepuh merah pucat senja.
 Sambil sesekali berlari, kita memeras baju yang berbau lumpur, memutar-mutarnya seolah baling-baling helikopter. Kita cekikikan sampai di rumah untuk berganti sekenanya, lantas aku bergegas menyambar sarung yang mulai pudar warnanya, sangit baunya.
Sambil memengunyah singkong goreng yang sedari tadi aku kantongi dan mengenakan sarung dengan gulungan yang asal jadi, mulutku yang penuh makanan itu memanggilmu dari halaman rumah. kali ini teriakanku disahuti omelan emakku, “nggak  tahu maghrib Kal?”
Untung saja emak masih sibuk dengan kepingan emping belinjo yang dari siang tadi dihamparnya di teras rumah. Oi, tentu saja kamu mendengarku, karena tiba-tiba sosokmu melesat,  melompat dari daun jendela tak berjeruji dengan sarung melingkar, seperti maling saja kurasa, makin komplit gelar itu karena kamu dengan wajah cemas menenteng selop butut cunghai. Haha, itu kan selop bapakmu, selop awet! Aku berani bertaruh, kamu pasti baru saja memutuskan selop untuk ke-3 kali dalam seminggu ini.
“Parah benar kamu Wan, kakimu itu lasak bukan main ya!” ledekku yang tak kau gubris saat itu.
“Wusss…! “  Seperti angin kau  meninggalkanku beberapa meter, dalam sekejap.
            “Woiii…!” seruku, yang tanpa ba-bi-bu mencincing sarung layaknya orang bercelana kedodoran. Beberapa  saat kemudian kita berebut jalan setapak, jalan  yang hanya bisa dilintasi satu-satu. Kamu selalu saja mendahuluiku, mengalahkanku dalam kecepatan.
Sesampai di gerbang  masjid,  berdua kita buru-buru ke arah pancuran bambu guna mengambil wudhu. Di seberang, tepatnya di dekat beduk yang tiap Idul Adha diganti kulitnya itu, Pak Coan sudah  berkacak pinggang, bulunya yang lebat terpamer di lengan, juga menyembul di bidang dadanya, sedikit. Buntelan sarungnya begitu menonjol dan membuat perutnya yang melar itu  terlihat tambah  gendut.
“Wan, kayaknya balon di perutnya udah seperti orang hamil 7 bulan saja ya…” bisikku. Kamu membalas bisikanku dengan tawa lepas, memamerkan gigimu yang sekuning pepaya setengah masak itu.
“Hei! cepat kelien dua!” pekik lelaki itu ke arah kami dengan nada yang serak-serak basah. Ah! Pak Coan, rambutmu yang keriting hampir sebahu, berewok yang rapi dengan jambang terpelihara itu, membuatmu seperti artis idolamu, kau memang mirip (tepatnya dimirip-miripkan) dengan penyanyi yang lagunya jadi lagu wajib anak muda saat digelar keyboard pesta di kampong ini, lagu Begadang-nya om haji Rhoma Irama.
“Oke Bang Roma!” sahutmu seraya melambai tangan. Aku menyikut, takut si lelaki itu tersinggung, marah. Tapi, sosok yang disebut begitu malah menyungging senyum, khas, senyuman meradang ala Bang Haji Oma. Ganteng versi jadul. Alamak!
Berwudhu dengan air berbau lumpur membuat ktia lekas-lekas meninggalkan pancuran  dengan wudhu satu menit, lalu kita masuk ke barisan sholat yang masih diawasi oleh Pak Coan. Kamu berakting kalem seraya menyodorkan mulut ke telingaku “Sudah kayak securiti Tuhan lama-lama beliau ni lah!” keluhmu, aku hanya nyengir dan bertakbir mengikut imam.
Selepas Isya, selekas mengaji alif-ba-ta dengan Ustad  Yono. Kita bermain-main di tanah lapang, menjunjung obor dari buluh bambu bersumbu kain perca. Tangan kita berayun naik-turun, kanan-kiri, menyabungnya dengan angin agar api tak kalah oleh dingin.  
Dan seperti biasa, kamulah jagoannya, yang paling berani memulai,  menghasut aku dan anak lelaki lainnya untuk mengekor di belakangmu yang  berdiri paling depan. Niat utama pasti untuk mengganggu, menakut-nakuti gerombolan anak perempuan, terutama Delisa,  anak  guru ngaji kita yang tersohor paling cantik di antara kawanannya,  yang juga baik perangainya. Padahal kau tahu, besoknya pasti akan dijewer sama  Ustad  Yono sampai kupingmu memerah kulit rambutan masak.
“Psst! Kal, kau jangan kasi tau ya sama yang lain” Bisikmu, aku mengangguk cepat.
“apa itu?” sahutku tak kalah berbisik,
“Sebenarnya aku suka sama Delisa!” sahutmu makin pelan. Aku mencium bau tajam dari mulutmu. Ah, ya! Tadi sore kan kita baru saja makan pakai rendang jengkol. Lha, hahaha… pantasan tadi Ustad  Yono nutup-nutup idung gitu pas giliran kita nyetor hafalan surat pendek. Terkekeh aku mengingat itu. Sumpah! Kau pede habis! Haha.
“Apaa? Gak denger lah?” tanyaku beberapa saat, pura-pura tak mendengar, kamu merengut, melipat kening di wajahmu yang kian dewasa.
“sip! Rahasiamu aman…” sahutku kemudian, kamu dengan sumringah mengacung jempol ke arahku.
“udah kau bilang ke dia?” bisikku ke telingamu. Kamu mematung, memainkan mata. Aku menerka,
“belum ya?” kamu mengagguk.
“kenapa? Kau kan ganteng…”
“iyalah aku ganteng…”
“tapi gantengan aku lah!” godaku dan kita berkejaran, lagi-lagi aku kalah. Rambutku siap-siap saja dikucel-kucel olehmu.
Pernah kubilang, “kalau kau suka sama Delisa, janganlah kau bikin dia takut gitu Wan!”
Tapi, kamu tak menggubris, tak peduli, kamu selalu senang saja,  karena berhasil membuat gerombolan gadis kecil itu bertubruk ketakutan,  berlari tak beraturan,  saat itu kau selalu menceritakan ihwal hantu-hantu yang berkeliaran di rimbunan bambu yang terkenal angker itu,  membuat sekerumunan anak gadis itu ketakutan.
Wan,  Kamu, adalah keberanianku di kali sepuluh, bahkan lebih dari itu Wan. Sejak  kecil, aku kagum padamu, kamu banyak menjadi perisaiku, dari gangguan anak kampung sebelah,  yang banyak mengajariku menjelajah tiap sudut kampung, yang mengajariku berenang di bendungan, menangkap belut, naik sepeda onthel, juga membuat perangkap burung pipit dari batangan yang serupa rotan.
 “ Kau tentu masih ingat kan Wan?”
Beranda ini sepi. Hanya rona oranye di barat yang masih setia menemani.  Segerombolan bangau putih melintas, entah dari mana mereka, tapi yang pasti mereka seperti halnya hati, terkadang hati akan kembali, meski lama,  meski dengan bentuk yang berbeda, “bukan begitu Wan?”.
            Aku terus berbicara pada lelaki yang duduk di kursi roda tua itu. Lelaki yang tidak saja kehilangan fungsi kedua kakinya, tapi juga ingatannya. Komplikasi saraf di otaknya membuatnya jadi pendiam yang akut, trauma kecelakaan pun kerapkali merenggut ingatan sadarnya, hingga kini, kumasih berusaha mengembalikan ingatanmu. Aku akan membayar apapun untuk itu Wan, aku berjanji atas nama persahabatan kita yang indah, atas nama kekalnya baikmu padaku.
Aku masih terus bercerita tentang masa lalu, padamu, saat senja kian mengiring kita pada pekat. Aku terus menguak memori kita, hingga, sebuah panggilan membuatku berhenti,  sosok bersuara lembut itu menghampiri kita,
“Mas, sudah mau petang, masuk saja yuk… ”
Wanita itu berdiri di depan kita, tepat membelakangi senja. Wajahnya teduh, kepalamu menegak. Matamu memicing. Mulutmu tergerak-gerak, mengucap sesuatu, terbata. Yang kudengar kau berkata,  “De… li…saa….”


[tanah deli,02 april-10 mei 2012]