Minggu, 06 Januari 2013

Flash Fiction: Meminang Naga

Cemas. Masih hilir-mudik di sepanjang trotoar Pajak Horas.
Sesekali langkah terhenti. Sayu mataku menerawang menatap langit pagi.
Ya, tentu saja aku begitu gelisah.
Betapa tidak? Ini kesekian kali handphone di saku bergetar. Kulihat sekilas, masih namamu dengan panggilan tak terjawab belasan kali. Wanita yang terakhir ini menambat hatiku, Juwita.
Pasti tanya yang sama, "Kapan bang?"
Sebenarnya, semalam saat pekat menyemat di kota Siantar ini, aku sudah bertandang ke rumah orangtua Wita. Namun, memang aku belum berani memberi kepastian, kapan meminang Wita si boru sinaga itu.

Masih berkelebat kejadian semalam. Hanya sepotong sabit keemasan  menemani kita. Semalam aku ingin mengajakmu  membelah jalanan kota ini lagi.

"Dek, taulah kau abang cuma penarik becak" tuturku saat kami memarkir becak di tepi Lapangan Simarito.
"Tapi amang sudah tak sabar menunggu kepastian abang" timpalmu
"Iya, tapi darimana kudapat duit belasan juta itu? Ngutang? Bah, tak sudi aku!"sambarku
"Ah, abang jual saja becak ini, kan..."
"Enak aja!" potongku seraya meloncat turun dari kabin kereta. Seketika kabin berayun, lentur.
"Tak sudi abang dek! Ini turun-temurun! Dari opung!" rutukku.

Wita turun. Langkahnya menjejerku. Ia diam, seperti sadar, memaksa bukanlah cara ampuh menyelesaikan masalah. Tiba-tiba, tangannya menyentuh bahuku yang keras. Jelas kulihat bening yang mengaliri wajah itu.

 "Wita tahu, abang orangnya setia, tapi bisakah beri kepastian bang?" nada suaranya serak. Aku menatap wajah itu lekat.
"Kau sudah tau dek, setelah amang dan inang meninggal. Inilah warisan satu-satunya, ini wasiat! Abang harus jaga! Kau tak mau abang durhaka kan? Terangku memberi pertimbangan.
"Entahlah bang, semogalah Wita bisa begitu, bisa sesetia abang sama janji abang" tambahmu
"Sudahlah, usah kau terlalu larut begini, abang akan lekas berkabar, sekarang kita pulang ya?”

Wanita itu mengangguk pelan. Gegas kugeber becak motor bermesin 350 CC.
Dalam perjalanan, dalam diam.

masih sempat kuseka setitik airmataku. Dek, kuberjanji kan perjuangkan kebersamaan kita. Ya, kebersamaan aku, kau dan benda bersejarah ini. Yakinku, IA mendengar do’a kita. Ya, bukankah tuhan tak pernah tidur?



leutikaprio