Sabtu, 12 April 2014

Beranda #80


Di beranda, di meja bundar, kita bersila. Dua gelas teh hangat buatanmu cukup mengusir dingin yang sedari tadi menyelinap di balik jaket tipisku.

"Hujan, dia berkejar-kejaran dengan angin, riuh, gaduh!" katamu memecah hening kita. aku menatapmu, wajah putih pucat berlatar garis-garis hujan yang jatuh dari atap. sesaat aku menikmati itu hingga ketukanmu di meja kita menyadarkan.
"Puitis amat sih?" ujarku seraya menyeruput teh hangat, kukatakan itu tanpa menatapmu. tak ayal, serta-merta cubitan halusmu mendarat di pinggangku.
"Yee, siapa yang nularin?" belamu setengah mencibir, meski menyemukan sedikit merahmuda di wajah. Aku berdiri, melihat ke halaman yang mulai tergenang air hujan.
"Yuk!" ajakku,
"Kemana?" keningmu berkerut saat mengatakan itu,

"Kita peluk mereka" kataku pelan seraya menunjuk ke arah halaman. kau julurkan tangan dan aku menggapainya.

Sebentar saja, kita bertelanjang kaki dan basah, membiarkan rasa membaur dengan aroma tanah lumpur saat kita berpijak. aku paling menikmati ini, menatapmu diam-diam di saat kamu bahagia dengan cara sesederhana ini, cantik tanpa poles kosmetik, bening bercahaya dalam basah.


Ini kelanjutan dari perjalan senja, kala kita dijatuhi guguran mahoni & rinai-rinai gerimis.
sejak itu kita tahu, hujan adalah temali yang menghubungkanku padamu,
sejak itu, kata tahu, aku menulisimu,
sajak itu, tanpa jeda, kamu.

#rumahira