Sabtu, 23 April 2011

Aku Menamakannya Proses

Menuangkan sebuah ide ke dalam bentuk cerita pendek bagi seorang penulis, bisa saja diselesaikannya dalam kurun waktu sehari, setengah hari, tiga jam, dua jam, atau malah nggak sampai satu jam!

Tapi, sejatinya tiap-tiap penulis memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyelesaikan cerpennya. Itu terpengaruh oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal si penulis tersebut.

Ada cerpen yang selesai secara fisik, tapi belum secara ruh. Ada cerpen yang masih perlu rewrite/editing lagi seperti alur cerita, logika, penggambaran karakter, ejaan, bahkan perlu terkadang ada perombakan sebagian atau bisa jadi keseluruhan isi cerpen.



Sebegitu sulitkah menulis cerpen? bagiku ini sebuah kenikmatan sendiri, entahlah. Tapi untuk menulis cerpen yang bermutu, aku rasa harus mengikuti rewriting yang tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.

Justru disini TANTANGANNYA! bagaimana kita akan bisa meningkatkan kualitas tulisan. Namun, bila dikatakan bahwa sebuah cerpen itu tergarap selama sebulan!. Anda mungkin pernah dengar seperti itu, tapi pernahkah mengalaminya? proses rewrite, pemangkasan kalimat-kalimat yang kurang pas, perombakan paragraf-paragrafnya, atau menyetting sebuah plot yang khas, sehingga dalam alam bawah sadarnya pembaca akan mereview kembali potongan klimaks dari sebuah cerpen tersebut.

Sebenarnya aku mau mengisahkan perjalanan ’prosesku’, maukah mendengarnya? kuharap ada setitik manfaatnya nanti. Semoga.

Mulanya, mendapat kabar ada lomba cipta cerpen dan baca Puisi dari Harian Global itu sendiri. Memang, hari sabtu adalah hari dimana aku memang mulai mewajib diri membeli Global. Segera kabar ini kushare ke kawan-kawan di KOMA dan komunitas lainnya.

Sepulangnya dari berkumpul di punggung* aku menilik stok cerpen di folder komputerku. Lelaki yang Menunda Damai, Pada Sebuah Perjalanan dan Kembalinya Si Baen (KSB). Cerpen-cerpen itu sudah siap secara fisik, tapi kurang menggigit di endingnya – terutama KSB. Tema cerpen yang Sosial memang pas dengan gaya tulisanku yang kerap mengangkat tema sosial humanis dan sedikit berbau psikologis yang melankolis.

Maka menimbang waktunya yang sudah dekat, dan aku pun harus bergumul kembali ke kegiatan kuliah, maka aku putuskan KSB yang ku kirim ke Global. Segera ku obrak abrik KSB, hingga beberapa kali –mungkin sudah puluhan kali. Di print, di edit, rewrite, rombak, acak, buang dan akhirnya kelar juga KSB yang menurutku layak aku kirimkan mengikuti lomba. 

Kalau tidak salah selesainya tanggal 4 Mei 2010, sementara dituangkannya KSB dalam bentuk embrio cerpen mulai 15 Maret 2010. Aku mengirimkan karya tanggal 07 Mei 2010 tepat sehari sebelum penutupan karya yang masuk. Soalnya Minggu harus pulang ke Siantar, My Sister married.

Dari kisah perjalanan aku dan kawan-kawan dari KOMA ke Harian Global saja sudah menguji kesungguhan kami dalam mengikuti lomba ini – dari nyasar sampai naik becak yang 'aneh'- anak KOMA tahu ceritanya, hehe kita kan sama ke sana.

Menutup, memang hal di atas kerap kupraktekkan dalam menulis, walau sungguh, sebagai pemula masih sangat banyak harus belajar – terimakasih kepada dewan juri atas kritiknya yang membangun. Dan, Jum’at kemarin ( 21/05/2010) rasanya tidak percaya, bahwa KSB masuk 7 besar dan akhirnya yang menjadi salah satu pemenang Lomba Cipta Cerpen HUT Ke 4 Harian Global Medan Sumatera Utara.

punggung* : lantai ter atas kampus ( beratap langit, berdinding angin)

repost from my older blog: