Kamis, 21 Juli 2011

Berkelana dari Datuk ke Sakura Emas

Para Penulis:
    A Fuadi, Asma Nadia, Alberthiene Endah, Andrei Aksana,Clara Ng, Dewi Ria Utari, Indra Herlambang, Putu Fajar Arcana, Sitta Karina, Dewi Lestari,  Avianti Armand, Happy Salma, Icha Rahmanti, Aan Mansyur.
     Berangkat dari kepedulian, saat Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (PDS HBJ) terancam tidak bisa meneruskan operasional sehari-hari yang dikarenakan dana alokasi Pemerintah Daerah Jakarta yang mengalami penyusutan terus-menerus tiap tahunnya.

    Sebuah inisiatif yang patut diapresiasi tinggi untuk kepedulian para penulis di buku ini. Setidaknya seperti yang dituliskan dalam pengantar, ”Mudah-mudahan dengan terbitnya buku ini, kita semua diingatkan kembali: kita masih kekurangan perpustakaan yang ada di negeri yang demikian luas ini, dan perpustakaan yang ada sebagian besar dalam keadaan terlantar.” Ironis memang, tapi inilah kenyataan yang mau tak mau harus kita telan.

     Setelah merebak aksi peduli lewat penggalangan dana lewat  koinsastra dengan beragam aktifitas-konser, teatrikal dan lain-lain, membuat letikan imajinasi beberapa penulis untuk berdialog dan bersepakat menyumbangkan karya untuk disatukan dalam kumpulan cerpen dari Datuk ke Sakura Emas ini. Di mana royalti penjualan buku seluruhnya akan disumbangkan untuk pengelolaan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

     Meski dikumpulkan dalam kurun waktu singkat - tak sampai sebulan, beberapa cerita dari Datuk ke Sakura Emas ini adalah cerita pendek terbaik penulisnya. Maka bukan berlebihan, bila kumpulan cerpen ini bisa ditahbiskan menjadi salah satu jejak sejarah cerita pendek dalam dunia kesusastraan nasional.



    Di dalam kumpulan cerita pendek ini, kita akan menemui karya-karya penulis kenamaan yang bertutur dengan gaya khasnya masing-masing. Sebut saja Ahmad Fuadi yang sukses dengan Negeri 5 Menara dan Ranah Tiga Warna.

     Beliau menyumbangkan cerita berjudul Datuk. Sebuah cerita yang berkisah tentang sosok Datuk Batungkek Ameh,  kisah yang sangat kental akan latar Padang dan petatah-petitihnya. Membaca cerita ini, kita seolah terbang ke sebuah kampung pedalaman di ranah Minang.

     Di lembar berikutnya tersuguh cerita pendek Sebuah Keputusan. Alberthiene Endah dengan apik meramu cerita tentang dunia metropolis, cinta dan perselingkuhan. Menemu cerita ini kita akan terkagum sendiri. Lihatlah, betapa penulis begitu lihai memasukkan usur remeh -semacam mie instan- sebagai penghubung antartokoh. Sebuah  ide yang jenial dan tidak populis.

    Selanjutnya giliran Andrei Aksana dengan cerita Ke Seberang Dermaga yang mengalirkan tikungan-tikungan dalam keluarga yang dibalut kisah romantis dan lagi-lagi mengangkat perselingkuhan yang tentu dengan cara yang berbeda- tetap memikat dan khas.

     Di lembar lain, Asma Nadia menyuguhkan Emak Ingin Naik Haji. Sebuah cerita yang dijadikan based story dalam layar lebar dengan judul yang sama. Mengangkat tokoh Zein yang dengan segala upaya mencoba merealisasikan impian ibunya yang sudah tua untuk naik haji.

      Emak Ingin Naik Haji ini berhasil meletup-letupkan simpul nurani pembaca. Perhatikanlah, jika ditelusur, impian terbesar banyak anak-anak yang sudah menanjak dewasa adalah menghajikan diri dan keluarga, terutama orangtua -lebih khusus lagi ibu. Penulis begitu jeli memilih tema cerita. Ini sebuah cerita berlatar marginal dengan kritik sosial yang  menohok ego, betapa kita diajak berkaca, bahwa individualisme sudah begitu kuat mengakar di lingkup perkotaan.


      Selanjutnya ada Dee dengan judul cerita yang unik, Mencari Herman. Sebuah kisah tentang pencarian Hera akan lelaki idamannya yang mesti bernama Herman-saja. Perjalanan pencarian ini membawa Hera pada pasang surut kehidupan. Meski tragis, cerita ini sarat akan hal-hal yang bisa kita renungkan.

       Di halaman lain, Happy Salma dengan mengejutkan menulis Kamis ke-200 dengan tokoh Batak. Mengangkat kisah tokoh Opung yang pikun dengan ponakan yang bernama Markus, sebuah cerita yang mengingatan kita pada kaum jompo yang terlupakan. Dalam penceritaan, Happy Salma begitu cair mengalirkan pesan secara halus, betapa butuh kesabaran dan pengertian ekstra untuk bisa memahami orang lain.

      Di lembar berikutnya, hadir cerita pendek berjudul Sambal Dadak dengan gaya penceritaan yang filmis. Tema yang segar, kali ini mengenai wanita karier di sudut Eropa yang masih mengeja akan adat ketimuran: Wanita itu harus pandai masak. Kerinduan untuk bisa menduplikasi kemampuan ibunya meracik sambal dadak mesti dibayar mahal dengan panggilan antarnegara dan kejadian-kejadian yang menggelitik.

Lagi-lagi, sebuah kontradiksi sosial tersaji dengan apik.

     Cerpen penutup yang juga menjadi salah satu judul kumpulan cerita pendek ini adalah Sakura Emas. Sebuah kisah Kei, seorang gadis Jepang yang mempertanyakan kenapa ia harus bersekolah di Higa Internasional School-tempat belajar anak-anak yang kebanyakan berambut pirang.

     Sering berkecamuk dalam diri gadis belasan tahun itu, bagaimana ia bisa menyelami mimpi orang lain, lantas bagaimana saat ia mengenal sosok Kania yang unik dan terlihat misterius saat ia mencoba menjenguknya di alam mimpi. Semua teramu indah dan meyentuh.

       Masih banyak cerita pendek yang bisa direguk di dalam buku ini, sebut saja di antaranya, cerpen dari M.Aan Mansyur, Putu Fajar Arcana, Clara NG dan yang lainnya.

     Secara keseluruhan, empat belas cerita pendek dalam buku ini menyajikan berbagai sudut pandang, gaya bercerita dan setting  dan penulis dengan latar belakang yang beragam. Meski begitu, pengumpulan cerita pendek ini tetap bermuara pada satu titik, yakni bentuk kepedulian orang sastra terhadap sastra. Sebuah bentuk nyata dari para penggiat sastra.

      Kumpulan dari Datuk ke Sakura Emas ini setidaknya meyakinkan banyak orang, bahwa sekecil apa pun perbuatan, asal dilandasi niatan untuk berbagi, pasti mengantarkan pada nilai hakiki manusia yang manusiawi.

     Selamat mereguk isi ke empat belas cerita pendek dari Datuk ke Sakura Emas ini dan selamat berbagi. 


mirror link:
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/07/03/42869/berkelana_dari_datuk_ke_sakura_emas/