Kamis, 18 Agustus 2011

Melayari Imajinasi dengan Sampan Zulaiha

penerbit padasan
         Berbicara tentang cerita pendek-khususnya di ranah Sumatera Utara, rasanya hambar jika tidak mengapungkan nama Hasan Al Banna, seorang sastrawan muda yang dikenal khalayak lewat cerita pendek yang diramunya. Memang, cukup lama digaungkan banyak orang, kapan seorang Hasan Al Banna menelurkan bukunya sendiri-selama ini masih berbentuk antologi.
Maka, tidak berlebihan jika diujar, bahwa buku ini selain sebagai rekam jejak beliau, juga sebagai penandas dahaga tanya para pembaca yang kerap menggedornya.
Melihat sepak terjang dalam menulis sastra, Hasan Al Banna patut menjadi salah satu figur yang bisa menjadi sumber mata air bagi penulis  muda untuk belajar berproses dan menimba pengetahuan. Tak pelak, penulis-penulis muda Sumatera Utara dipastikan menyempatkan diri mereguk ilmu dan pengalaman sastra beliau.









Dalam buku ini, tersaji 14 cerita pendek yang sarat akan lokalitas. Hampir semuanya telah dimuat di media, baik lokal maupun nasional, baik cetak maupun elektronik. Setiap cerita menyajikan suspense tersendiri.
Pemikiran penulis tertuang apik lewat cerita-cerita yang kontras dengan sudut pandang awam. Kerap, saat membaca, pembaca akan menemukan sisi ”relatif” dari sebuah pemahaman kata ”baik” dan ”buruk.” Tentu tidak menggurui, dan ini laiknya gula yang larut dalam seduhan air teh. Terasa tapi tak terlihat kasat mata.
Cerita dalam buku ini dimulai dari kisah Rumah Amangboru. Penulis berhasil merekam dan masuk ke ranah psikologis seorang Haji Sudung. Potret hidup modernis yang kerap menenggelamkan sisi humanis dan ketimuran terikat kuat dalam cerita ini. Sebuah cerita yang pantas dibaca tiap-tiap yang sudah dan akan berkeluarga.
Di lembar lain, muncul Pasar Jongjong. Sebuah cerita yang menggelitik ego perkotaan, betapa tidak? Kesederhanaan nyatanya lebih layak ditegakkan melebihi konsep urbanis yang mau tak mau akan mengantarkan pola hidup manusia bermuara pada konsep individualis. Dalam kisah ini, penulis mengaduk-aduk perasaan pembaca. Bisa saja akan menerbitkan air mata usai membaca kisah ini. Haru, cemas, marah, sedih, membaur campur aduk di hati pembaca.
Berikutnya, ada Sampan Zuleha-yang menjadi judul kumpulan cerita pendek ini. Sebuah cerita miris. Gambaran getir dan realis kehidupan masyarakat marginal kebanyakan, masih ada sisa penjajahan, yakni pembedaan gender. Zulaiha, sosok anak gadis cacat fisik-tapi tidak secara psikis, setidaknya ini yang digambarkan penulis- dari seorang nelayan tua. Impian sederhananya hanyalah bisa melaut. Ah, betapa sulit menunaikan niat hatinya. Meski berakhir tragis, toh penulis tak lupa menyisipkan pesan moral di tiap lembar ceritanya.
Cerecau Ompu Gabe hadir di halaman lain. Seperti judulnya, cerita ini berkisah tentang ocehan seorang lelaki tua. Menarik! Penulis mengangkat setting dan properti batak simalungun. Lihatlah, ujar yang begitu ramah di telinga, becak siantar-yang BSA itu, lapo tuak-yang memang banyak terpajang di semerata pinggir jalan, juga opera batak yang kian jarang dipertunjukkan, semua terselip dengan rapi. Kerinduan yang diusung Ompu Gabe pada seseorang nyatanya berakhir pada pengharapan yang kandas.
Selain cerita-cerita di atas, masih ada sekerumun cerita lainnya, semisal: Hanya Angin yang Terpahat di Rahang Pintu, 15 Hari Bulan, Gokma, Parompa Sadun, Ijazah, Rabiah, Kurik, Pertikaian Siasat dan Horja. Kesemua cerita mengalirkan beragam alur dan kenikmatan tersendiri, kesemuanya ditulis dengan ramuan kata yang kerap meletikkan imajinasi pembacanya.
Ya, membaca keseluruhan cerita dalam buku ini, membuat pikiran kita seolah terkayuh menaiki sampan, berkecipak membelah sungai imajinasi yang teramu oleh diksi yang memukau.
Menandaskan buku ini juga akan mengajak kita sadar atau tidak untuk menambah perbendaraan kata lantas bermuara pada keinginan untuk membuka dan lebih akrab lagi dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan menemukan kata-kata yang jarang direguk oleh mata baca kita. Rasanya kita perlu berterimakasih kepada penulis untuk  hal yang satu ini.
Melihat sekilas kover Sampan Zuleha. Ada aroma romantis mengembang, hasil dari tatanan koral, kerang dan pasir pantai begitu  manis untuk jadi sebuah judul buku-sekilas terlihat feminim.
Hanya satu hal yang cukup disayangkan, yakni, buku ini belum masuk ke toko buku terkemuka di Indonesia-semacam Gramedia. Padahal, konsumen utama -yang sudah pasti pembaca sastra- adalah pengunjung di toko buku terkemuka tersebut.
Terlepas dari itu, secara konten dan kualitas kertas, buku ini adalah satu dari beberapa sejarah khasanah sastra Indonesia. Sebuah artefak yang mahal dan patut dikoleksi sebagai rekam jejak kita selaku penikmat setia sastra dan menjadi monumen hidup seorang pandai fiksi Sumatera Utara dan Nasional, Hasan Al Banna.
Selamat melayarkan imajinasi anda.

Bravo!

(Muhammad Anhar. Pembina KOMA Medan dan Pendidik di SMP Al-Azhar)

Dimuat di Rubrik Budaya Medan Bisnis
 ( http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/08/14/50479/melayari_imajinasi_dengan_sampan_zulaiha/ )