Jumat, 07 Oktober 2011

Menyusuri Jejak Kucing Kiyoko


doc. rama dira
 "Kata-kata kadang membuatmu candu, ia tergantung siapa yang meramu"

 -peramu mimpi-

Di kalangan penikmat cerita pendek, tentu nama seoang Rama Dira sudah dikenal dekat oleh pembacanya lewat tiap-tiap ceritanya yang khas. Maka dari itu, begitu serangkaian cerita pendeknya rampung dibukukan, para penikmat cerita pendek langsung berburu di toko buku atau memesannya langsung dari penulisnya.
ta pendek dalam buku ini sudah dimuat di media sejak tahun 2006 lalu. Cerita-cerita ini merupakan satu jejak sejarah penulis yang dikemas pada sebuah buku yang diberi judul “Kucing Kiyoko”-yang merupakan salah satu judul dari cerita pendek dari buku tersebut.

Kumpulan cerita pendek Kucing Kiyoko dibuka dengan sebuah proses kreatif sang penulis dalam merampungkan cerita yang berjudul “Kucing Kiyoko.” Mulai dari bagaimana menjumput ide, lantas bagaimana memintalnya dengan benang data dan ketajaman jarum imajinasinya. Membaca proses kreatif ini, sedikit banyak kita bisa mendapat tambahan koleksi sudut pandang bagaimana sebenarnya sebuah cerita itu dibuat.



Dimulai dari cerita pendek berjudul Kucing Kiyoko. Sebuah cerita yang tak biasa. Cerita yang mengambil latar Jepang-negeri matahari terbit ini digarap manis sekali. Penulis begitu rapi menyaji cerita dengan sesekali menyisipkan potongan-potongan data dan informasi yang benar-benar padu dengan cerita.

Membaca cerita pendek Kucing Kiyoko, seolah kita terlempar sejenak ke satu sudut kota di belahan Negeri Sakura. Seakan nyata, kita ikut merasakan khasnya teh Cha, mencicipi Hamaagu dan Sukiyaki dan mendengar alunan petik jemari pada Shamisen. Larut dalam cerita ini, membuat kita ditubrukkan pada realita tentang kadar “manusiawi” tiap-tiap manusia. Ending cerita ini pun begitu tak terduga. Sangat membekas!

Rasanya tidak berlebihan jika seorang Benny Arnas  memberi endorser: “Bila sastra laksana bentang samudera, maka Rama Dira adalah gelombangnya. Ia tidak menggulung kapal yang membawa setumpuk muatan, namun justru mengantarkannya hingga nyata di pelupuk pembaca.”
Betapa tidak? Hampir semua cerita dalam kumpulan cerita pendek Kucing Kiyoko ini memiliki banyak asupan data dan informasi. Meski begitu, dengan lihai penulis merekatkan fakta-fakta itu dalam tulisannya secara utuh, sehingga secara sadar atau tidak, saat kita membaca, kita akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yakni menikmati cerita yang meletikkan imaji dan menambah dua-tiga pengetahuan dan wawasan kita. Sungguh sebuah karya yang sayang untuk dilewatkan.

Sentilan Manis
Di lembar berikutnya, ada “Malam Kunang-kunang.” Sebuah cerita yang memotret serangkai data, imaji dan mistik. Penulis seolah mengajak kita keluar sejenak dari hiruk-pikuk kota guna menyinggahi suasana khas pedesaan yang  saat ini sudah banyak yang hilang. Ini adalah sebuah cerita yang seolah mengingatkan kita, betapa nikmatnya masa kecil dulu, begitu kreatifnya anak-anak desa mencipta sendiri permainan mereka yang sederhana tapi mengesankan.

Membaca “Malam Kunang-kunang” juga mengingatkan kita pada kepercayaan purba, tentang asal kunang-kunang yang konon berasal dari kuku orang mati. Di penghujung cerita, penulis menyeret pembaca pada satu keadaan tegang dan meremangkan bulu kuduk kita.

“Hujanlah yang Membawaku Kepadamu” hadir di lembaran berikutnya, mengusung kisah melankolik seorang lelaki yang terperangkap oleh kenangannya sendiri. Kenangan tentang dirinya dan seorang gadis, mereka mencintai hujan, mereka kerap membiarkan tubuh dipeluk hujan. Ya, hujan yang menyimpan setumpuk kisah getir cintanya. Miris, tapi inilah liku hidup kita yang memiliki kepingan rasa cinta.

“Bocah Taman” turut memberi warna di kumpulan cerita pendek Kucing Kiyoko ini. Selain sebagai cerita pendek perdana penulis yang berhasil menembus media, cerita ini juga menyimpan muatan kental akan polemik psiko-sosial. Kisah kelabu bocah dalam cerita ini membenturkan kita pada realita bahwa banyak masyarakat kita yang enggan menerima mereka yang memiliki cacat/kekurangan dalam lingkup masyarakatnya.

Adanya “Bertemu Kembali di Kafe Les Blues” membuat kita merasa geli dan gemas melihat tingkah polos tokoh cerita yang seorang bocah riang nan cerdas. Penulis begitu jenial memainkan tokoh si Rambo ini dengan menjadikannya seolah-olah jadi “alasan” ayahnya untuk berkenalan dengan perempuan cantik. Inilah sebuah cerita dengan sentilan yang manis. Menjewer pikiran-pikiran nakal kaum lelaki. Ya, sekulum senyum pahit pasti terbit saat mata kita terhenti di akhir cerita. Ya, sekali lagi kita disuguhi kejutan!

“Di Gerbong Kereta” mengantar kita pada kisah perjalanan seorang pria yang dalam perjalanannya digoda seorang gadis berdandan menor-yakni wanita penghibur.  Membaca cerita ini membuat hati pembaca seolah diketuk-ketuk oleh serentetan ingatan untuk menginsafi kefanaan dan khilaf diri. Ini cerita yang religius, meski tanpa bertabur ayat-ayat di dalamnya.

Masih ada beberapa cerita pendek yang sama menariknya yang dirangkum dalam kumpulan cerita pendek Kucing Kiyoko ini, seperti: Oriana, Cerutu Terakhir Milik Tjoe Boen Tjang, Prajurit dan Gadis Masa Kecilnya, Senandung Ombak, Anak Gadis yang Suka Bermain-main dengan Angin dan terakhir Verkooper Kompas.

Keseluruhan cerita pendek dalam buku kumpulan cerita pendek Kucing Kiyoko ini menyuguhkan pengalaman membaca yang kerap berujung pada desah dan decak puas pembacanya seusai menandaskan tiap cerita.

Selamat mengelus-elus liarnya  imajinasi kumpulan cerita pendek Kucing Kiyoko ini.
(muhammad anhar)

mirror page :
http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/10/02/58274/menyusuri_jejak_kucing_kiyoko/