Senin, 23 April 2012

Mendenyutkan (kembali) Nasionalisme dari Bulu Tangkis

“Dreams, faith, fight!” begitu mendengar slogan ini, bagi sebagian penikmat novel, pasti  fikirannya akan melayang pada satu penulis novel yang  intim mengisahkan persahabatan , cinta, nasionalisme dan impian yang sukses dengan novel 5cm yang kini sudah puluhan kali cetak ulang dan dalam kurun waktu dekat akan difilmkan. Kini, Donny Dhirgantoro –si penulis- telah menelurkan satu novel anyarnya berjudul “2.” 



doc.donny-dhirgantoro.


“Novel   ini masih  bercerita tentang semangat keberanian bermimpi, mengejar impian itu, meski dalam keterbatasan!”  begitu ujar beliau saat  diundang Lesehan Bareng Sahabat 5cm. dan 2   di Kompas  Gramedia Fair Medan 2011 awal november kemarin.
Novel 2 ini kental akan bagaimana sebuah keajaiban impian, persahabatan, cinta dan keyakinan itu bisa membuat begitu banyak perbedaan yang mengubah kehidupan manusia. Novel yang  mendenyutkan semangat,  bahwa hanya impian dan keyakinan yang bisa membuat manusia itu berbeda dengan mahluk lainnya.
Mungkin, novel  ini adalah satu dari sedikit novel metro pop yang menyentuh tapi tidak cengeng,  ringan  tapi menguatkan. Tulisan yang tetap renyah meski  isinya sarat dengan serangkaian  polemik sosial, kepribadian dan gender.
Sebuah acungan jempol atas keberanian penulis membuat novel  yang mengangkat bulu tangkis sebagai setting cerita bagaimana ia mampu memotret banyak sisi lain dari bulu tangkis, sisi yang lebih humanis, jenial, sentimental dan emosional  dari  komunal perbulutangkisan. Mengangkat  sebuah keluarga dengan seorang papa yang berprofesi sebagai produsen shuttle kok. Diceritakan, produk yang masih diproduksi semi-manual hasil pabriknya mulai goyang diterpa oleh shuttle kok buatan Cina yang lebih ringan dan murah. Papa, yang  semula labil, rapuh, kerap menjadi kuat karena ia meyakini, dirinya telah menjadi perisai dan benteng untuk tiga wanita yang menjadi bagian penting dalam hidupnya, yakni, mama, Gita dan Gusni.
Buku  setebal 418 halaman ini bercerita banyak tentang  semangat untuk bertahan hidup, berani  berbuat dan tak kenal putus asa. Membaca novel ini, seolah mengingatkan pembaca bahwa kita (Indonesia) adalah jagonya bulutangkis, “Ini Bulu tangkis, dan ini Indonesia!” demikian dikutip dari cover belakang novel berwarna merah nyala ini.
 Menilik pada kenyataan saat ini, bahwa dunia perbulutangkisan Indonesia sedang mengalami kemunduran prestasi dan kualitas, maka novel ini seolah berjuang untuk menanam kembali mimpi-mimpi juara di benak pemuda-pemudi di nusantara, bahwa kelak, bukan mustahil akan muncul bintang-bintang baru sekelas Alan Budi Kusuma, Liem Swi King dan Susi Susanti yang menorehkan sejarah emas untuk Indonesia di kancah dunia setelah terinspirasi dari membaca buku ini.
Karena hidup tidak sempurna
Karena hidup tidak sempurna, dan hanya seorang pengecut yang mengharapkan hidup yang sempurna. Cerita bermula dari kelahiran seorang adik yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besarnya, namun lambat laun, setelah kelahiran dan perjalanan waktu menakdirkan si adik kecil mengalami kelainan-yakni obesitas yang sangat berlebihan-yang membuat papa dan mama  harus menjaga si anak bungsu dengan sangat ekstra. Perempuan yang diberi nama Gusni Annisa Puspita, tumbuh menjadi anak yang besarnya melebihi dua kali lipat kawan sebayanya. Terbayang bagaimana seorang Gusni menjalani lika-liku kehidupannya yang serba “berlebihan” itu. Ya, novel ini banyak menceritakan tentang ketegaran seorang Gusni  yang nyatanya telah divonis hidup tak lebih dai 25 tahun oleh doker, menyerahkah Gusni?
Gusni kecil  bertemu seorang sahabat lelaki yang sama-sama oversize, Harry namanya. Keduanya sering menghabiskan waktu untuk makan onde-onde di kantin juga di taman yang mereka sebut taman cita-cita. Sebuah taman yang dihuni beberapa ikan mas warna-warni, taman yang menjadi pengikat ingatan satu sama lain, bahwa kebersamaan itu pernah ada dan itu adalah kenangan yang sangat indah. Di taman itulah, sesekali potongan onde-onde tenggelam ke kolam yang langsung saja dikerubungi ikan warna-warni. Ya, sebuah  kebersamaan yang terus dikenang, hingga mereka dipertemukan lagi pada usai  remaja.
            Bersama Harry dan keluarga besarnya yang besar-besar, Gusni kecil banyak belajar dan berani bermimpi, “Orang hidup harus punya cita-cita Gus”,  “beruntung sekali jadi orang besar, karena ukuran hatinya juga besar” celetuk Harry saat mereka berdua menikmati bakmi khas dengan bumbu rahasia racikan rumah makan bakmi nusantara.
            Ya,  berkenalan dan mengikuti kisah perjalanan hidup  tokoh Gusni, Gita, Harry dan tokoh lainnya, seolah mendenyutkan lagi semangat dan nasionalisme pembacanya. Penulis sedemikian hebatnya mendetailkan cerita, seolah-olah pembaca berada tepat di tempat-tempat yang penulis ciptakan dalam cerita. Sebuah pengemasan cerita yang apik.
Semuanya 2 kali
Karena segala sesuatu diciptakan 2 kali, ya, dalam dunia imajinasi dan dalam dunia nyata. Tidak ada kerja keras tanpa impian, dan tidak ada impian tanpa kerja keras. Ya, seperti  yang dituturkan Gusni pada dirinya sendiri, “seperti  hidup yang tidak sempurna. Kamu janji, kamu tidak akan menyerah. Cintai impianmu. Cintai kerja kerasmu. Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan pernah berputus asa.”